Surabaya — Suasana halaman SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Rabu (11/2), tampak berbeda dari biasanya. Meja-meja berjajar rapi, dihiasi poster warna-warni dan balon. Di atasnya tersaji aneka makanan, camilan, hingga minuman segar. Hari itu, sekolah berbasis pesantren tersebut menggelar ujian praktik mata pelajaran prakarya yang diikuti 75 siswa kelas IX dan terbagi dalam 15 kelompok.
Sejak pagi, para siswa sibuk menata dagangan. Ada yang mengenakan sarung tangan plastik, ada pula yang masih meracik makanan di atas kompor portabel. Aroma pasta, nasi hangat, dan camilan manis bercampur menjadi satu, mengundang siswa lain untuk mendekat.
Persiapan dari Rumah, Eksekusi di Sekolah

Guru prakarya, Ari Wahyoelianti, menjelaskan bahwa seluruh persiapan sejatinya telah dilakukan dari rumah. Di sekolah, siswa tinggal menyajikan dan menjual hasil olahannya.
“Setiap kelas ada 5 kelompok. Mereka ada juga yang masak langsung di mejanya masing-masing meskipun sudah diimbau untuk persiapan di rumah,” ujarnya.
Kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan memasak sekaligus jiwa kewirausahaan siswa. Penilaian tidak hanya dari rasa dan tampilan makanan, tetapi juga dari kekompakan tim, kreativitas stan, hingga strategi pemasaran.
9A Andalkan Snack Kekinian

Siswa kelas 9A tampil kreatif dengan menjual aneka snack dan makanan ringan. Mulai dari donat, pasta creamy, hingga bola-bola ubi isi keju dan cokelat tersaji di atas meja mereka.
Sendy Sendyaga, siswa kelas 9A, mengaku puas dengan hasil penjualan kelompoknya.
“Kami menjual bola-bola ubi yang di dalamnya berisi keju dan cokelat. Ada juga yang ori. Untungnya lumayan juga,” katanya sambil tersenyum.
Tak hanya Sendy, Bunga Ghaniyah juga merasakan antusiasme pembeli yang tinggi.
“Ternyata belum istirahat sudah habis. Donat kelompok kami juga ada yang preorder sehingga cepat habis,” ujarnya.
9B Sajikan Menu Berat, 9C Segarkan dengan Minuman

Berbeda dengan 9A, siswa kelas 9B memilih menjual nasi dan makanan berat. Beberapa kelompok tampak menyajikan nasi dengan lauk rumahan yang menggugah selera. Pembeli mengantre sambil membawa uang tunai di tangan.
Sementara itu, kelas 9C menghadirkan aneka minuman segar. Es dengan topping buah dan sirup warna-warni menjadi favorit di tengah cuaca yang cukup terik. Stan minuman ini tak kalah ramai, terutama menjelang waktu istirahat.
Ludes Sebelum Istirahat
Menariknya, sebagian besar dagangan telah habis bahkan sebelum bel istirahat berbunyi. Harapannya, siswa kelas 7 dan 8 bisa ikut berpartisipasi sebagai pembeli, namun tingginya minat membuat banyak produk cepat terjual.
Kegiatan ini bukan sekadar ujian praktik, melainkan pengalaman nyata berwirausaha. Dari proses memasak, menghitung modal, melayani pembeli, hingga merasakan keuntungan, siswa belajar lebih dari sekadar teori. Di balik riuh rendah transaksi hari itu, tersimpan pelajaran tentang kerja sama, kreativitas, dan semangat mandiri yang kelak akan mereka bawa ke jenjang berikutnya.