HPSN di Spempat, Siswa Diajak Kurangi 1.800 Ton Sampah per Hari

Pagi itu suasana di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya berbeda. Ratusan siswa kelas 7 dan 8 duduk menyimak dengan wajah serius. Di layar terpampang angka yang sulit dibayangkan: 1.800 ton sampah per hari.

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), sekolah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya menggelar edukasi lingkungan, Jumat (13/2). Meski HPSN diperingati setiap 21 Februari, kegiatan dilakukan lebih awal karena siswa akan memasuki libur awal Ramadan.

Namun yang lebih penting dari tanggal adalah kesadaran: sampah bukan sekadar urusan petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama.

Dari Angka ke Kesadaran: Mengenal Sampah Lebih Dekat

Lina Pratiwi menjelaskan tentang aksi pilah dan pilih sampah

Staf Tim Kerja Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Surabaya, Lina Pratiwi Rahmadewi, mengajak siswa memahami bahwa sampah memiliki jenis dan perlakuan berbeda.

Ada sampah organik seperti sisa makanan dan daun. Ada sampah anorganik seperti plastik dan botol minuman. Dan ada sampah B3—baterai bekas atau lampu neon—yang berbahaya dan tidak boleh dibuang sembarangan.

Ketika Lina menjelaskan bahwa 1.800 ton sampah masuk ke TPA Surabaya setiap hari, ruangan mendadak hening.

“Bayangkan kalau kalian membeli gula 1 kg kemudian kalikan 1 juta 800 kali. Dan yang bisa diolah TPA kita tidak sampai jumlah segitu setiap harinya. Tidak sebanding,” ujarnya.

Ia bahkan mengibaratkan sisa sampah yang tak tertangani bisa menggunung sebesar Candi Borobudur. Gambaran itu terasa nyata di benak para siswa.

Langkah Kecil, Dampak Besar: Aksi Nyata yang Bisa Dimulai Hari Ini

Kepala sekolah, Laili Rahmi, menegaskan bahwa perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana.

“Jadi itu untuk mengurangi sampah plastik. Itu adalah langkah yang saya lakukan,” ujarnya, mengajak siswa mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah anorganik.

Dari diskusi dan refleksi pagi itu, muncul beberapa aksi konkret yang bisa langsung dilakukan warga sekolah:

Pertama, membawa botol dan kotak makan sendiri.
Kebiasaan ini memangkas penggunaan plastik sekali pakai di kantin.

Kedua, memilah sampah di kelas.
Minimal dua tempat sampah—organik dan anorganik—bisa menjadi awal budaya baru. Untuk baterai bekas atau limbah B3, sekolah dapat menyediakan kotak khusus agar tidak tercampur.

Ketiga, menghabiskan makanan.
Mengambil secukupnya dan tidak menyisakan makanan berarti mengurangi timbunan sampah organik setiap hari.

Keempat, mengumpulkan kertas dan botol bekas untuk didaur ulang.
Selain menjaga lingkungan, langkah ini bisa mendukung program bank sampah dan ekonomi sirkular.

Tak hanya itu, Lina juga mengenalkan cara mengolah sampah organik langsung dari sumbernya melalui pembuatan biopori dan metode kompos takakura.

“Kalau sampah organik seperti sisa nasi atau daun itu bisa kita olah. Bisa dibuat lubang biopori di rumah atau di sekolah. Bisa juga pakai metode takakura. Jadi tidak semua harus dibuang ke TPA,” jelasnya.

Lubang biopori membantu penyerapan air sekaligus mengurai sampah organik menjadi kompos. Sementara metode takakura menggunakan keranjang kompos yang praktis dan cocok diterapkan di lingkungan sekolah maupun rumah.

“Mulainya tidak harus besar. Satu lubang biopori saja sudah membantu. Satu keranjang takakura di kelas juga sudah langkah baik,” tambahnya.

Sekolah sebagai Titik Awal Perubahan

Peringatan HPSN di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang refleksi—bahwa kebiasaan kecil seperti membuang bungkus jajanan sembarangan, jika dilakukan ratusan siswa setiap hari, berubah menjadi persoalan besar.

Namun sebaliknya, kebiasaan kecil yang baik—membawa tumbler, memilah sampah, menolak plastik sekali pakai—jika dilakukan bersama, bisa menjadi gerakan kolektif yang berdampak luas.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *