SMP Muhammadiyah 4 Surabaya kembali menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menguatkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai keimanan. Rabu (25/2), siswa kelas IX mengikuti latihan shalat khusuf (shalat gerhana bulan) di Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung.
Kegiatan ini dipandu oleh Guru ISMUBA, M. Adenin, yang menjelaskan makna khusuf sebagai “tertutup atau terhalang.” Ia menguraikan bahwa gerhana bulan terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus sehingga cahaya matahari ke bulan terhalang oleh bumi. Akibatnya, bulan tampak gelap dari bumi.
“Jadi shalat khusuf adalah shalat yang dilaksanakan saat terjadi gerhana bulan,” jelasnya di hadapan para siswa.
Tidak sekadar teori, para siswa juga mempraktikkan tata cara shalat gerhana secara langsung. Adenin menerangkan bahwa shalat gerhana terdiri dari dua rakaat, namun memiliki perbedaan dengan shalat sunnah biasa. Dalam dua rakaat tersebut terdapat empat kali rukuk, yakni setiap rakaat dilakukan dua kali rukuk.
“Setelah rukuk pertama, berdiri lagi, membaca Al-Fatihah dan surat, lalu rukuk kembali. Bacaan imam dikeraskan,” terangnya.
Ia juga mengaitkan peristiwa gerhana dengan hadis riwayat Aisyah yang tercantum dalam Sahih Bukhari. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa gerhana merupakan tanda kebesaran Allah, bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, takbir, shalat, dan sedekah saat terjadi gerhana.

Dalam penyampaiannya, Adenin menegaskan pentingnya meluruskan pemahaman siswa dari mitos yang berkembang di masyarakat, seperti anggapan gerhana terjadi karena “dimakan raksasa.” Ia menekankan bahwa kepercayaan tersebut berasal dari animisme dan dinamisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
“Semua yang terjadi di alam adalah tanda kebesaran Allah. Gerhana justru mengingatkan kita untuk lebih dekat kepada-Nya,” pesannya.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek ibadah, tetapi juga mengintegrasikan ilmu sains. Wakil Kepala Sekolah bidang ISMUBA, Zaenal Maftukhin, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pembelajaran terpadu antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.
“Siswa tidak hanya memahami proses ilmiah gerhana bulan, tetapi juga tahu bagaimana menyikapinya secara syar’i melalui shalat gerhana,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan seperti ini menjadi ciri khas program Darul Arqam, yaitu mengaitkan setiap fenomena penting dengan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga pembelajaran menjadi kontekstual dan bermakna.
Kabar gembiranya, latihan ini juga menjadi persiapan menyambut gerhana bulan yang diperkirakan terjadi pada 14 Maret 2026, bertepatan dengan bulan Ramadan. Pihak sekolah mengimbau siswa untuk berpartisipasi aktif melaksanakan shalat gerhana di masjid sekitar rumah masing-masing saat libur nanti.
Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual. Ketika sains menjelaskan bagaimana gerhana terjadi dan agama mengajarkan bagaimana menyikapinya, siswa belajar bahwa ilmu dan iman bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.