Sore itu, Jumat (27/2), langit di atas kawasan Jalan Gadung sedang tidak bersahabat. Mendung pekat yang menggantung sejak selepas Ashar akhirnya tumpah menjadi hujan deras. Di dalam gedung sekolah, ratusan paket takjil sudah rapi berjajar, siap diantarkan ke tangan para pengendara.
Namun, rencana manusia seringkali harus berbenturan dengan realita. Selain guyuran hujan, ada tantangan lain: imbauan dari Wali Kota Surabaya agar tidak ada pembagian takjil di pinggir jalan demi ketertiban kota.
Bagi sebagian orang, dua kendala ini mungkin alasan cukup untuk menunda kegiatan. Tapi bagi Zaenal Maftukhin, Wakil Kepala Sekolah Spempat, ini justru momen untuk mengajarkan arti resilience atau ketangguhan kepada para siswanya.
“Rencananya kami mau turun ke frontage road Ahmad Yani. Tapi karena cuaca dan aturan yang ada, kami harus putar otak. Rencana dadakan dan sikap adaptif itu wajib,” ujar Zaenal di sela-sela kesibukan mengatur logistik.
Gerak Cepat di Balik Layar

Alih-alih menyerah pada keadaan, suasana di lobi sekolah justru makin hangat. Para guru, karyawan, hingga mahasiswa PPG Prajabatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya bahu-membahu menyusun strategi baru. Siswa kelas 9 yang menjadi motor utama pengumpulan donasi pun tak kehilangan semangat.
Tercatat ada 300 paket takjil yang berhasil dihimpun. Karena jalanan bukan lagi pilihan, sasaran dialihkan. Targetnya kini lebih personal: masjid-masjid terdekat dan panti asuhan di sekitar sekolah.
Muhammad Umar Faruq, salah satu siswa kelas 9 yang ditunjuk menjadi perwakilan, tampak sibuk mondar-mandir memastikan paket terdistribusi. Baginya, momen ini bukan sekadar soal makanan, tapi soal rasa.
“Rasanya senang sekali. Bisa berbagi sekaligus silaturahmi langsung dengan pengurus masjid dan anak-anak panti. Intinya ini soal berbagi kebahagiaan,” ucapnya dengan binar mata yang jujur.
Lebih dari Sekadar Pelajaran

Di sudut lain, Husni Mubarok, salah satu mahasiswa PPG yang ikut terjun ke lapangan, tampak terkesan dengan antusiasme para siswa. Menurutnya, apa yang dilakukan Spempat sore itu adalah kurikulum kehidupan yang sesungguhnya.
“Sekolah bukan cuma tempat mengejar angka di rapor. Di sini, empati siswa dipupuk langsung lewat aksi nyata. Inilah yang jadi nilai lebih, membentuk karakter yang peduli pada sekitarnya,” tutur Husni.
Sore itu, meski aspal Ahmad Yani basah kuyup dan sepi dari keriuhan bagi-bagi takjil seperti tahun-tahun sebelumnya, 300 paket kebaikan tetap menemukan jalan ke pemiliknya. Di dalam hangatnya ruang masjid dan senyum anak-anak panti, semangat Spempat Surabaya tetap menyala, membuktikan bahwa niat baik selalu punya cara untuk sampai, sekeras apa pun hujan yang menghalangi.