Belajar Pemanfaatan Zat Aditif Melalui Cilok Bianglala

Dua puluh satu siswa anggota ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja Spempat membuat cilok bianglala, Jumat (8 September 2023). Dengan didampingi pembina ekstrakurikuler Amalia Hanifah, mereka meracik bahan, membuat adonan, dan memasaknya menjadi makanan yang populer di masyarakat ini.

Nona Almaira, siswa kelas 9 yang juga anggota ekstrakurikuler KIR menuturkan bahwa membuat cilok ini adalah pengalaman pertama baginya. Biasanya, ia hanya memasak yang sederhana saja.

“Ini tadi mengolah cilok mulai dari masih bahan dasar tepung, bikin adonan, sampai menambah isian, kemudian direbus sampai matang,” ujarnya.

Menurutnya meskipun kali pertama membuat masakan yang kompleks, ia mengaku senang. Pengalaman baru membuat hidangan dengan menambahkan zat aditif yang aman dikonsumsi.

Menurutnya, selama ini ia salah mengartikan zat aditif. Zat aditif menurutnya pasti berkaitan dengan pengawet atau pewarna buatan yang berbahaya bagi kesehatan.

“Ternyata kalau zat aditifnya alami, sama sekali tidak berbahaya,” jelasnya.

Pembuatan cilok dalam esktrakurikuler KIR ini memang untuk menerapkan penambahan zat aditif alami pada makanan. Penerapannya kali ini pada cilok sehingga tampilannya menjadi berwarna.

Amalia Hanifah, pembina ekstrakurikuler menyebutkan bahwa semua zat aditif yang ditambahkan dalam proses pembuatan cilok ini aman dikonsumsi. Zat aditif yang digunakan merupakan pewarna alami sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan.

“Kami menggunakan pewarna yang berasal dari tumbuhan. Sama sekali tidak menggunakan pewarna buatan,” ujarnya

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan ini juga berusaha mengedukasi siswa bahwa di luar sana masih banyak hidangan yang terbuat dari bahan pewarna buatan.

“Setelah tahu banyak zat aditif berupa pewarna buatan, harapannya siswa menjadi waspada dan selektif dalam memilih makanan,” tambahnya

Menurutnya, memang lebih sehat apabila siswa memasak sendiri hidangan yang mereka mau. Apalagi, beberapa bahan makanan memang mengandung zat gizi dan bisa dimanfaatkan untuk pewarna makanan.

“Setelah mempelajari rimpang di program keputrian, harapannya mereka bisa memanfaatkan rimpang untuk pewarna makanan,” pungkasnya

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *