Siapa bilang bertani butuh lahan berhektar-hektar? Siswa kelas 9A SMP Muhammadiyah 4 Surabaya baru saja membuktikan bahwa masa depan ketahanan pangan bisa dimulai dari sebotol plastik bekas.
Pada Kamis (22/1), suasana kelas IPA berubah menjadi bengkel kreativitas. Alih-alih hanya berkutat dengan buku teori, para siswa sibuk mengolah barang bekas—mulai dari botol mineral, kaleng cat, hingga keranjang berkat—menjadi instalasi hidroponik yang fungsional.
Inovasi di Tengah Keterbatasan Lahan
Kegiatan ini bukan sekadar tugas sekolah biasa. Di tengah padatnya pemukiman kota Surabaya, keterbatasan lahan hijau seringkali menjadi kendala bagi warga sekolah untuk bercocok tanam. Namun, melalui pendekatan urban farming, para siswa menunjukkan bahwa kreativitas adalah solusi dari keterbatasan ruang.
Sistem hidroponik sederhana ini dirancang agar ramah kantong dan ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan barang daur ulang, siswa belajar bahwa inovasi tidak harus mahal, namun harus berdampak.
Sania dan Angelique Putri, siswa kelas 9A, mengaku antusias mengikuti pembelajaran kali ini. Menurutnya ia tidak menyangka kangkung yang biasanya diikat oleh penjual sayur dan dibeli oleh ibunya, ternyata bermula dari biji.
”Ternyata menanamnya cukup mudah. Cukup diberi sekam bakar dan nutrisi yang cukup. Kangkungnya sudah tumbuh sehat dan kuat akarnya,” ujar Saniya.
Angelique Putri juga berpendapat sama. Ia memperoleh biji kangkung ini dari toko daring. Menurutnya harganya cukup murah.
”Selain mudah ditanam, harganya murah dan terjangkau. Bisa diterapkan di rumah untuk solusi pangan murah dan sehat bergizi,” tambahnya.
Menanam Karakter, Bukan Sekadar Sayur
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya sekaligus guru pengampu IPA, Laili Rahmi, menegaskan bahwa esensi dari praktik ini adalah menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.
“Siswa tidak hanya memahami konsep bercocok tanam modern, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa pertanian masih menjadi sumber pokok penyedia makanan yang sangat penting bagi kehidupan,” ungkap Laili.
Ia menambahkan bahwa pengenalan urban farming sangat krusial bagi generasi muda di perkotaan. Melalui metode ini, siswa diharapkan memiliki karakter yang mandiri, peduli lingkungan, dan selalu berpikir solutif dalam menghadapi tantangan zaman, terutama terkait isu ketahanan pangan.