Tradisi Munaqasyah, Upaya Spempat Tingkatkan Kualitas Qur’ani

SURABAYA – Nuansa serbaputih menyelimuti Masjid Syuhada di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung, Sabtu (4/4). Ratusan murid beserta wali murid SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat) berkumpul dengan khidmat untuk mengikuti prosesi munaqasyah, sebuah ujian komprehensif untuk mengukur capaian literasi dan hafalan Alquran para siswa.

Acara yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB ini dibuka dengan lantunan ayat suci Alquran yang dibawakan secara tartil oleh Maulidah Rahma, siswi kelas 7B. Suasana semakin syahdu saat lantunan ayat-ayat tersebut menggema di dalam masjid, menandai dimulainya rangkaian ujian yang menjadi agenda rutin tahunan sekolah berbasis pesantren tersebut.

Peningkatan Kuantitas dan Kualitas

Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Zaenal Maftukhin, menyatakan rasa syukurnya atas tren positif jumlah peserta munaqasyah tahun ini. Sebanyak 109 murid tercatat mengikuti ujian, menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Zaenal, munaqasyah bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan momentum krusial untuk memacu semangat dan motivasi siswa dalam menjaga interaksi mereka dengan Alquran.

“Sekolah terus berkomitmen meningkatkan layanan bagi siswa, khususnya di bidang hafalan Alquran, prestasi akademik, serta pengembangan keterampilan. Kami berharap hafalan ini diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hafal di lisan saja,” ujar Zaenal, yang juga merupakan pengajar matematika.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pihak sekolah dan keluarga. “Munaqasyah ini adalah hasil kolaborasi nyata antara orang tua dan sekolah. Peran ayah dan bunda sangat vital dalam mendukung proses belajar anak di rumah,” tambahnya.

Mekanisme Ujian yang Transparan

Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng penguji kompeten dari Pondok Pesantren Nurul Falah, mitra strategis yang telah bekerja sama dengan Spempat selama sepuluh tahun terakhir. Peserta dibagi ke dalam dua kategori ujian:

1. Bil Hifdhi: Ujian bagi mereka yang menekankan pada kekuatan hafalan.

2. Bin Nadhor: Ujian yang menekankan pada kelancaran dan ketepatan membaca.

Metode ujian dilakukan secara personal. Murid dipanggil satu per satu untuk menghadap penguji dengan didampingi langsung oleh orang tua mereka. Penguji akan membacakan satu potongan ayat secara acak, yang kemudian harus dilanjutkan oleh peserta dengan memperhatikan tiga aspek utama: irama, tajwid, dan makhraj.

Haru dan Refleksi Diri

Kehadiran orang tua di samping siswa menciptakan momen emosional. Isak tangis haru kerap pecah saat orang tua menyaksikan langsung buah hati mereka mampu melantunkan ayat suci dengan lancar di hadapan penguji.

Meski demikian, kejujuran dalam evaluasi tetap dijaga. Chudori, salah satu tim penguji, memberikan catatan refleksi bagi setiap peserta. Ia mengapresiasi semangat para siswa namun tetap memberikan poin-poin perbaikan untuk penyempurnaan bacaan di masa depan.

“Harapannya tidak berhenti di sini. Setelah munaqasyah ini, hafalan harus terus bertambah dan yang terpenting adalah implementasi nilai-nilai Alquran dalam perilaku sehari-hari,” tutur Chudori.

Salah satu peserta, Irza Alqifari Kurniawan, siswa kelas 9, mengaku sempat gugup saat menjalani ujian. “Tadi agak grogi jadi merasa kurang sempurna. Setelah lulus nanti, target saya adalah bisa mengaji dengan lebih baik lagi dan lebih rajin lagi,” ungkapnya jujur.

Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya berharap dapat terus mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi akhlaqul karimah yang kokoh sebagai pemimpin masa depan.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *