Bulan suci Ramadan tahun ini menjadi penanda baru bagi Muhammad Naufal Nur Azzaini. Siswa kelas 9 SMP Muhammadiyah 4 Surabaya itu menjalani pengalaman pertamanya sebagai imam salat Tarawih di sejumlah masjid di Kota Surabaya.
Di usianya yang masih belia, Naufal berdiri di saf terdepan, memimpin jamaah dengan suara tartil yang terjaga. Salah satu momen yang paling ia kenang adalah saat dipercaya menjadi imam di Masjid Asy Syubban Dupak, Sabtu (28/2). Malam itu, rasa grogi sempat menyelinap. Namun, latihan panjang yang ia jalani membuatnya mampu mengendalikan diri.
“Alhamdulillah lancar. Pengalaman ini jadi modal penting bagi saya untuk mempraktikkan hafalan di sekolah. Saat kegiatan Darul Arqam kemarin, saya sudah dilatih untuk menjadi imam salat Tarawih,” ujarnya dengan senyum lega.
Sebagai sekolah berbasis pesantren, Spempat memang menekankan pembinaan hafalan Al-Qur’an, tajwid, dan irama tartil. Bekal itu pula yang menjadi pegangan Naufal setiap kali melantunkan ayat demi ayat. Sebelum turun langsung ke tengah jamaah, ia mendapat bimbingan intensif dari guru Ismuba dan guru tartil di sekolah. Proses itu tak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga menumbuhkan keberanian tampil di depan publik.
M. Adenin, guru Ismuba Spempat, mengaku bangga dengan penampilan anak didiknya. Meski menjadi tugas pertamanya, Naufal dinilai mampu menjalankan amanah dengan baik.
“Kerja kerasnya terbayarkan. Tinggal meningkatkan kepercayaan diri agar kemampuannya tidak tertutupi rasa canggung,” ujar Adenin, yang juga dikenal sebagai pendekar Tapak Suci.
Apresiasi serupa datang dari Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi. Menurutnya, bacaan yang ditampilkan Naufal saat memimpin salat Tarawih dalam rangkaian Darul Arqam menunjukkan kualitas yang melampaui usianya.
“Kemarin saat Darul Arqam memang ada sedikit hafalan surat yang terlupa, tetapi secara keseluruhan sudah sangat bagus dan percaya diri,” katanya.
Bagi Laili, memberi ruang bagi imam muda adalah bagian dari proses regenerasi. Ia meyakini, kesempatan tampil akan membentuk mental dan kepemimpinan siswa.
“Imam muda harus diberi ruang sebanyak-banyaknya. Regenerasi penting agar lahir penerus yang lebih baik,” ujarnya.
Ramadan pun menjadi panggung pembelajaran yang nyata bagi Naufal. Di balik lantunan ayat yang mengalun di antara saf jamaah, tersimpan proses panjang latihan, bimbingan, dan keberanian menaklukkan rasa canggung pada diri sendiri. Dari masjid ke masjid di Surabaya, langkah kecilnya hari ini bisa jadi adalah awal dari peran yang lebih besar di masa depan.