Ngoro, SMPMUH4SBY.COM – Mendung gelap menyelimuti Desa Wotanmas Jedong. Sejuknya desa di kaki Gunung Penanggungan itu menambah semangat 78 siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 4 Surabaya untuk mengikuti Outdoor Learning Activity.
Pun beberapa pohon rambutan yang ada di depan rumah warga telah ranumkan buahnya menambah asri desa itu di kala mendung. Dari rumah warga, sudah terlihat dua bangunan megah lengkap dengan pagar yang terhubung antara satu dengan yang lain. Siswa makin mempercepat langkahnya. Mereka penasaran ingin segera mendekat ke dua bangunan yang terkenal dengan sebutan Candi Jedong, Rabu (17/1/2024).
Menurut Ali Mustofa, petugas pelestari Candi Jedong, bangunan candi ini mulanya ada tiga buah. Namun, salah satunya ambruk. Tinggal tersisa puing-puing batu yang masih dilestarikan hingga sekarang. Ia menambahkan bahwa candi ini merupakan candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang berfungsi sebagai pintu masuk Desa Perdikan. Desa Perdikan adalah daerah yang dibebaskan dari pajak.
“Ini adalah gapura yang dibangun kira-kira pada abad ke-14. Orang sini nganggapnya candi. Padahal fungsi utamanya adalah gapura, pintu masuk. Makanya ada relief kala di atasnya. Kata orang dulu, untuk menolak bala,” tambah Ali Mustofa.
Tugas Membuat Video Sejarah Candi

Selain mempelajari sejarah Candi Jedong yang tertulis di kantor pengelola candi, siswa ditugasi untuk membuat video pendek. Mereka diberi pilihan untuk membuat video versi sinematik atau format vlog. Di hamparan halaman candi yang luas, siswa secara berkelompok mengabadikan tiap jengkal bukti sejarah.
“Saya pilih mode sinematik. Kayak bisa didramatisasi gitu videonya. Lengkap nanti diberi sound berupa gamelan,” ujar Sendy Sendyaga, siswa kelas 7A.
Menurutnya, mode sinematik itu mempunyai beberapa kelebihan. Jika membuat video berupa vlog, siswa harus menarasikan keterangan-keterangannya berupa voice over. Namun jika memilih sinematik, siswa harus pintar-pintar memilih tone warna agar terkesan dramatis.
Wali kelas 7 yang ikut mendampingi kegiatan siswa terlihat bersemangat. Mereka aktif memberikan masukan untuk keberhasilan pembuatan video siswa.
“Ayo coba agak sedikit dipelankan langkahnya kalo shoot video. Biar hasil rekaman videomu tidak goyang,” kata Asep Saputro, Wali Kelas 7B
Selain mengarahkan siswa untuk memelankan langkahnya dalam shoot video, wali kelas lainnya juga sigap dengan tingkah laku siswa ketika berkunjung ke Candi Jedong. Di candi yang mempunyai tinggi 9,75 meter itu, tidak jarang terlihat siswa menaikinya hingga bagian atas candi.
“Hati-hati licin banyak lumut di batunya. Jangan naik candi terlalu tinggi,” tegur Eka Puspitasari, wali kelas 7A.
Menurutnya, siswa terlalu berani dalam pengambilan gambar video sedangkan bahan baku candi yang terbuat dari batu bata merah rentan licin ketika terinjak.
Amalia Hanifah, Wali Kelas 7C, mengaku kaget dengan antusiasme siswa dalam merekam video. Ia tidak menyangka banyak sekali kreativitas siswa dipertontonkan dalam sudut pengambilan gambar.
“Semoga nanti hasilnya bagus dan memuaskan. Terima kasih atas kerja kerasnya,” pungkasnya.