Fortasi merupakan kegiatan rutin awal tahun yang diselenggarakan oleh sekolah Muhammadiyah. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik baru untuk belajar adaptasi dengan lingkungan sekolah. Selain itu, siswa baru juga dituntun untuk mengembangkan diri melalui aktivitas yang beragam.
Salah satu kegiatan pengembangan diri dalam Fortasi juga dilakukan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat), Kamis (18/7). Siswa baru dibekali dengan aktivitas belajar materi mencegah perundungan yang merupakan salah satu dosa besar pendidikan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, perundungan tidak lagi dilakukan secara fisik maupun psikis. Perundungan juga mulai merambah media sosial atau yang lazim disebut sebagai cyberbullying.
Untuk memberikan pengertian tentang bahaya bullying, Panitia Fortasi SMP Muhammadiyah 4 Surabaya mengundang Fini Rahmatika, Konselor Psikologis Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Jawa Timur. Dalam penyampaian materinya, ia mengutarakan bahwa bullying dapat meninggalkan trauma yang cukup dalam bagi korbannya.
“Perundungan bisa berdampak jangka pendek dan panjang. Contoh dampak pendeknya ketika kondisi kita merasa tidak nyaman karena mengalami perundungan maka berpengaruh ke fisik jadi bisa merasa sakit,” kata Rahma, sapaan akrabnya.
Menurutnya jika bullying terjadi di sekolah, semua ekosistem sekolah harus melindungi korban dari tindakan perundungan. Jika terjadi perundungan, bukan hanya tugas guru saja untuk melindungi korban, namun juga orang tua dan teman-teman harus berusaha untuk bertindak sesuai porsinya.
“Mereka harus mendapatkan perilaku khusus dan juga motivasi yang lebih,” pesan Rahma.
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, mengutarakan bahwa perundungan merupakan hal yang harus dihilangkan sepenuhnya di sekolah. Perundungan yang biasanya dimulai dari saling ejek antarsiswa harus diantisipasi, salah satunya dengan memberikan pengertian tentang bahaya perundungan kepada siswa baru.
“Perlu pemahaman yang masif tentang bahaya perundungan ini, karena sangat berpengaruh pada kondisi psikologis siswa yang menjadi korban,” ujarnya.
Rizal, salah satu siswa baru, mengaku baru kali pertama mengetahui jika bahaya perundungan bisa sejauh itu. Ia awalnya menganggap saling ejek antarteman hanya sebatas candaan.
“Setelah ini saya harus sebisa mungkin menghindari ngejek ngejek teman, bahaya ternyata,” katanya.