Kue talam, klepon, martabak, dan es kuwut menjadi menu yang dibuat siswa kelas 9B SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Mereka membuat makanan tersebut dalam rangka penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Jumat (7/11). Kegiatan bertema kearifan lokal ini mereka manfaatkan dengan membuat jajanan tradisional.
Guru pendamping P5, Yeni Charisma Wati, mengatakan bahwa jajanan tradisional semakin lama semakin tidak populer di kalangan remaja. Menurutnya siswa lebih tertarik mencoba jajanan dari makanan olahan dengan rasa yang gurih dan kemasan yang menarik.
“Dengan kegiatan ini, kami mencoba mengenalkan kepada siswa bahwa jajanan tradisional tidak kalah enak dan menarik untuk dicoba,” katanya.
Melalui pembuatan jajanan tradisional, tambahnya, sekolah juga ingin mengenalkan lebih dalam tentang proses pembuatan makanan khas daerah yang tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan.
“Contohnya klepon ini. Warna hijaunya kami ambil dari pandan, bukan dari pewarna makanan buatan,” tambahnya.
Dia mengatakan, para siswa diajak untuk memahami proses pembuatan makanan mulai dari pengolahan bahan hingga menjadi jajanan siap santap. Mereka tidak hanya belajar tentang teknik memasak, tetapi juga mendalami nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung dalam setiap hidangan.

“Program ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tentang kearifan lokal, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan memasak dan menghargai hasil karya sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, baik dari siswa, orang tua, maupun masyarakat sekitar memberikan respon positif terhadap program ini sangat.
“Mereka menyambut baik inisiatif sekolah dalam memperkenalkan dan melestarikan kearifan lokal melalui jajanan tradisional,” ungkapnya.
Dia berharap, agar program ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam memperkuat ikatan antara pendidikan dan budaya lokal.
Atika Abdullah, siswa kelas 9C, merasa senang dapat mengambil bagian dalam pembuatan jajanan tradisional. Ia juga merasa kagum bahwa di setiap jajanan tradisional, ada filosofi yang mendalam.
“Tekstur alot yang ada di dalam klepon akan diikuti rasa manis seiring klepon dikunyah. Hal ini dimaknai sebagai peristiwa yang susah akan terasa manis di kemudian hari,” ujarnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Anisa Dwi Aryanti. Ia berkesempatan mengolab kue talam. Kue yang berasa manis ini ternyata mempunyai filosofi dalam penyajiannya.
“Rasa manis dengan tekstur lengket kue talam adalah pesan filosofi kemanusiaan bahwa kehidupan manusia erat dengan berbagai pengalaman kebersamaan antarmanusia,” katanya