Melalui Kue dan Jajanan Lebaran, Siswa SMP Ini Belajar Mengenal Budaya

Surabaya — Suasana berbeda tampak di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya pada hari pertama masuk sekolah setelah libur Idulfitri, Rabu (9/4). Alih-alih langsung memulai pelajaran seperti biasa, para siswa justru berkumpul lesehan bersama wali kelas di dalam kelas masing-masing untuk menggelar acara makan kue lebaran bersama.

“Ayo, kue lebaran yang sudah dibawa dari rumah, tolong dikeluarkan. Kita duduk melingkar, lesehan,” ajak Faisal Ardianto, wali kelas 7A.

Ia berdiri di sela-sela siswa sambil mengarahkan siswanya membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran, aneka hidangan khas lebaran dalam toples mulai ditata rapi.

Sebelum menyantap kue-kue tersebut, siswa diajak berdoa bersama. Setelah itu, suasana keakraban pun tercipta. Tawa ringan, saling suap, hingga rasa penasaran muncul saat mereka mencicipi kue-kue tradisional dari berbagai daerah yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka lihat.

Kegiatan ini merupakan tradisi tahunan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya yang bertujuan menumbuhkan semangat berbagi antarwarga sekolah. Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang Ismuba, Zaenal Maftukhin, seluruh siswa, guru, dan karyawan sekolah ikut berpartisipasi.

“Ini bagian dari inisiasi sekolah agar semua siswa bisa merasakan hidangan lebaran, meskipun mungkin di rumah masing-masing mereka tidak mendapatkannya. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai kepedulian dan kebersamaan,” ujarnya.

Zaenal menambahkan bahwa para guru dan karyawan pun saling bertukar kue khas daerah asal mereka.

“Setelah mudik, tentu ada oleh-oleh khas daerah. Nah, ini momen yang pas untuk berbagi,” tambahnya.

Wali kelas 9D, Alifwati Citra Iqlimasari, juga mengamati semangat berbagi yang ditunjukkan siswanya.

“Semua antusias. Mereka saling mencicipi tanpa rasa sungkan. Suasananya guyub, rukun, dan penuh kehangatan,” ucapnya.

Salah satu siswa kelas 9D, Fildza Al Ghaisan, mengaku senang bisa mengenal berbagai jajanan tradisional dari daerah lain.

“Nama makanannya lucu-lucu dan asing di telinga saya. Ada suwar suwir dari Jember, alen-alen dari Trenggalek, dan beberapa kue yang baru saya cicipi untuk pertama kalinya,” katanya.

Lewat kegiatan ini, siswa tak hanya merayakan kebersamaan, tapi juga belajar menghargai keberagaman budaya kuliner Indonesia. Semangat berbagi yang tumbuh pun menjadi modal penting untuk membentuk karakter generasi yang peduli dan inklusif.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *