40 Tahun Angkatan Alumni Hadiri Silaturrahim Akbar, Ini Keseruannya
SMP Muhammadiyah 4 Surabaya menggelar Silaturrahim Akbar Alumni dari angkatan 1980 hingga 2020 pada Sabtu (12/4). Bertempat di aula sekolah, acara ini menjadi momen langka yang mempertemukan 80 alumni dari berbagai angkatan dalam satu panggung nostalgia.
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, menyampaikan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk penghargaan kepada alumni yang selama ini terus menjadi bagian dari perjalanan sekolah.
“Kami fasilitasi alumni untuk berkumpul di sini karena alumni juga merupakan keluarga yang mendukung langkah kita,” ujar Laili.
Acara dibuka dengan penampilan lagu religi dari Nona Almaira, alumni berbakat dari sekolah ini. Nuansa syahdu berlanjut dengan penampilan story telling dari Vanessa Angelica, siswi kelas 8, serta pembacaan Surah At-Tiin oleh empat siswa kelas 9 dengan berbagai irama tartil: Ayu Azza, Qisya Farzana, Erdi Hamam, dan Ridho Budi Utomo.
Laili Rahmi juga mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Surabaya.
“Harapannya silaturrahim ini dapat terus terjaga dan berjalan beriringan dengan perkembangan sekolah,” ujarnya penuh harap.
Dukungan Alumni dan Ikhtiar Besar Sekolah Membangun Pesantren Kota

Acara ini turut menghadirkan Lukman Rahim, Ketua PCM Wonokromo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penghargaan kepada guru sebagai bagian dari warisan nilai alumni.
“Sudah sepantasnya kita mendoakan guru-guru kita. Itu yang perlu kita lakukan sebagai alumni,” tegasnya.
Ir. Lukman juga menyampaikan rencana besar SMP Muhammadiyah 4 Surabaya untuk membangun Muhammadiyah Tahfidz Center. Ikhtiar ini menjadi langkah awal menuju visi baru sekolah sebagai pesantren kota yang unggul dalam pendidikan umum dan agama.
Dukungan dari alumni semakin kuat ketika Irfan Fitriadi, alumni tahun 1991, menyampaikan testimoni menyentuh tentang pengalamannya selama belajar di sekolah ini
“Orang tua saya menyekolahkan saya di sini beserta kakak dan adik saya. Ini bentuk kepuasan atas pelayanan sekolah,” ungkap Irfan.
Ia bahkan menyatakan bahwa menyekolahkan anak di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya hukumnya wajib bagi keluarganya.
“Minimal lulusan dari sini bisa ngaji dan memahami ilmu agama,” lanjutnya.
Tausiyah Hikmah Syawal hingga Doorprize Bikin Alumni Betah
Puncak acara diisi dengan tausiyah hikmah Syawal oleh Muhammad Lutfi, mantan kepala sekolah yang kini berkhidmat di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya alumni sebagai support system sekolah.
“Setelah menjadi alumni, kita harus cinta terhadap perkembangan ilmu, salah satunya dengan mendukung kegiatan sekolah,” ujarnya.
Lutfi juga membahas kisah sahabat Rasulullah untuk mengingatkan pentingnya saling menjaga akidah dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Ia menekankan bahwa grup WhatsApp alumni seharusnya bukan sekadar tempat berbagi foto atau basa-basi.
“Gunakan grup itu untuk saling menguatkan, bukan sekadar tebar pesona,” pesannya.

Kemeriahan acara ditutup dengan pembagian doorprize. Amalia Hanifah selaku pembawa acara memandu sesi tebak-tebakan nostalgia. Salah satu alumni dari Jakarta, Siswo Wardoyo, berhasil menjawab pertanyaan tentang sosok guru tahun 80-an.
“Bu Anik,” jawabnya dengan mantap, yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Selain pertanyaan itu, ada sepuluh pertanyaan lain yang diajukan. Pertanyaan itu tentang wawasan umum, wawasan ke-Muhammadiyah-an, serta pengetahuan tentang guru dan karyawan sekolah.
Silaturrahim akbar ini bukan hanya tentang reuni, tapi tentang menyambung nilai, meneguhkan visi, dan membangun masa depan pendidikan Islam yang unggul dan membumi di tengah kota.