Ketika Waktu Memeluk Kembali: Kisah Hangat Silaturrahim 40 Tahun Alumni Spempat

Sabtu pagi itu, aula SMP Muhammadiyah 4 Surabaya terasa berbeda. Bukan karena dekorasi atau tata ruang yang istimewa, melainkan oleh aroma nostalgia yang menyeruak di udara. Tawa-tawa ringan terdengar menyusup di sela-sela salaman, pelukan, dan sorot mata yang penuh haru.

Di ruang sederhana inilah, lebih dari 80 alumni dari berbagai angkatan—1980 hingga 2020—berkumpul, menepi sejenak dari kesibukan dunia, dan pulang ke titik awal mereka menapaki kehidupan: Spempat, begitu mereka menyebut sekolah ini dengan akrab.

Acara silaturrahim akbar yang digelar pada Sabtu (12/4) bukan sekadar reuni biasa. Ia menjelma menjadi ruang temu lintas waktu, tempat cerita masa lalu bersanding dengan harapan masa depan.

Dalam sambutannya, Laili Rahmi, Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, menegaskan bahwa alumni adalah jantung lain dari sekolah.

“Kami fasilitasi alumni untuk berkumpul karena kalian adalah bagian dari keluarga yang mendukung langkah-langkah besar kami,” ucapnya, disambut anggukan dan senyum hangat para tamu yang hadir.

Nada, Cerita, dan Irama yang Menyatukan

Sesi pembuka tak disambut tepuk tangan meriah, melainkan hening syahdu yang menyelimuti ruang. Nona Almaira, salah satu alumni, membuka acara dengan lagu religi yang mengalun pelan, seolah menjadi pengantar waktu kembali ke masa putih biru.

Tak lama berselang, Vanessa Angelica dari kelas 8 memikat hadirin dengan penampilan storytelling, diikuti lantunan Surah At-Tiin oleh empat siswa kelas 9 yang mengalir dalam berbagai irama tartil. Panggung itu tidak hanya menjadi tempat tampil, tapi juga menjadi simbol estafet nilai dan semangat antar generasi.

Visi yang Diperkuat oleh Masa Lalu

Lebih dari sekadar ajang temu kangen, silaturrahim ini menjadi panggung untuk memperkenalkan arah baru sekolah: Muhammadiyah Tahfidz Center. Sebuah inisiatif besar yang akan menjadikan Spempat sebagai sekolah pesantren kota—memadukan keunggulan akademik dan kekuatan spiritual dalam satu wadah pendidikan.

“Ikhtiar ini bukan mimpi sesaat. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan sekolah ini pusat keilmuan dan keislaman yang membumi,” kata Ir. Lukman, Ketua PCM Wonokromo dalam sambutannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mendoakan guru-guru, orang-orang yang telah membentuk karakter para alumni.

Testimoni, Teguran, dan Tebar Harapan

Irfan Fitriadi, alumni tahun 1991, membagikan kisah sederhana yang menyentuh. Ia, kakaknya, dan adiknya pernah belajar di sekolah ini.

“Orang tua saya puas sekali dengan pelayanan sekolah. Kami sekeluarga besar alumni Spempat,” ujarnya.

Bahkan, ia menyebut menyekolahkan anak di sini sebagai sebuah “kewajiban moral”.

“Minimal anak kita bisa ngaji dengan baik dan punya dasar agama yang kuat,” tegasnya.

Puncak acara hadir lewat tausiyah Syawal yang disampaikan oleh Muhammad Lutfi, anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang juga mantan kepala sekolah. Ia menegaskan pentingnya alumni menjadi support system sekolah. Dalam kisahnya, Lutfi menyampaikan peringatan dari sejarah: tentang sahabat Nabi yang hafal 30 juz tapi tersesat karena tergoda nabi palsu.

“Kita harus saling mengingatkan dalam kebaikan. Grup WhatsApp alumni jangan cuma jadi tempat berbagi foto-foto liburan,” ujarnya, disambut tawa dan renungan diam-diam.

Tebak-Tebakan, Doorprize, dan Riuh Kenangan

Di ujung acara, suasana kembali hangat dan ramai. Amalia Hanifah, sang MC, menghidupkan nostalgia lewat sesi kuis interaktif.

Salah satu alumni dari Jakarta, Siswo Wardoyo, berhasil menjawab pertanyaan tentang guru legendaris: “Bu Anik,” katanya mantap, langsung disambut tepuk tangan dan tepukan punggung dari teman-teman satu angkatannya.

Tak hanya itu, sepuluh pertanyaan lainnya menggali wawasan umum, ke-Muhammadiyahan, dan kisah lama yang hanya bisa dijawab oleh mereka yang benar-benar pernah ‘hidup’ dalam lingkungan sekolah ini.

Sebuah Pulang yang Penuh Makna

Alumni tahun 1982 menyalami Pak Amir Safa dengan penuh haru

Silaturrahim akbar ini adalah tentang pulang. Pulang bukan hanya ke bangunan fisik, tetapi pulang ke nilai, ke akar, ke semangat yang membentuk banyak dari mereka yang kini menjadi orang tua, profesional, pemimpin, dan penggerak masyarakat. Pulang ke sekolah bukan hanya tentang mengenang, tapi tentang membangun ulang hubungan: alumni dan sekolah, murid dan guru, masa lalu dan masa depan.

Dan dari sana, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya bukan hanya ingin mencetak lulusan. Ia ingin membentuk peradaban. Dimulai dari sebuah pelukan di aula kecil, di Sabtu pagi yang hangat itu.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *