Rabu, 27 Agustus 2025, ruang guru SMP Muhammadiyah 4 Surabaya tersaji slide dengan judul Growth Mindset. Sejak pukul 09.45 WIB, sebanyak 27 guru dan karyawan berkumpul, menunggu paparan dari Eka Puspitasari, salah satu guru yang baru saja menuntaskan pelatihan pembelajaran mendalam. Kesempatan itu menjadi buah manis atas prestasi sekolah yang mendapat predikat Sekolah Berkemajuan Terbaik 2025.
Eka tampil percaya diri dalam menyampaikan materinya. Dengan nada suara yang tenang, ia membuka sesi dengan sebuah kalimat reflektif.
“Kalau saya gagal, berarti saya harus belajar lalu mencoba lagi,” ucapnya sambil menayangkan slide yang memperlihatkan perbedaan antara pola pikir tetap dan pola pikir bertumbuh.
Beberapa guru terlihat mengangguk, seakan menemukan cermin dalam pengalaman mereka sendiri saat mendidik siswa.
Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan, kecerdasan bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Lebih penting adalah bagaimana seseorang melihat kesalahan dan kegagalan sebagai peluang belajar.
“Kalau kita hanya berfokus pada bakat, anak-anak akan mudah menyerah. Tapi kalau kita ajarkan mereka menikmati proses, mereka akan tumbuh lebih tangguh,” tambahnya.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika Eka membedakan antara pujian pribadi dan pujian proses.
Ia memberi contoh, “Daripada mengatakan ‘Kamu pintar sekali’, lebih baik kita bilang ‘Kamu sudah menggunakan strategi yang tepat untuk menjawab soal ini’. Kalimat sederhana, tapi dampaknya besar.
Menurutnya, pujian proses membuat siswa percaya bahwa usaha mereka dihargai, bukan hanya hasil akhirnya.
Dalam pemaparannya, Eka juga mengutip pernyataan Prof. Abdul Mu’ti, Mendikdasmen RI, yang menegaskan bahwa orang dengan growth mindset tidak mudah putus asa. Mereka yakin selalu ada jalan keluar meski menghadapi masalah sulit. Pesan itu menjadi pengingat, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga bagi para guru dalam menjalani tugas sehari-hari.
Selama pemaparan materi, suasana pelatihan terlihat hidup. Ada suasana serius maupun bercanda. Beberapa guru sempat berbagi pengalaman, bagaimana mereka sering terjebak memuji siswa dengan cara yang tidak tepat.
“Saya jadi tersadar, ternyata cara memberi pujian bisa sangat memengaruhi mental anak. Setelah ini saya ingin lebih berhati-hati memilih kata-kata,” ujar Handa Sonia, salah satu guru Bahasa Indonesia.
Hal senada diungkapkan oleh M Rozaki, guru informatika.
“Materi ini bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk kita sebagai pendidik. Kadang kita juga butuh mengingatkan diri sendiri bahwa gagal itu bukan akhir, melainkan bagian dari belajar,” katanya.
Diseminasi ini bukan sekadar berbagi hasil pelatihan, melainkan juga momentum bagi SMP Muhammadiyah 4 Surabaya untuk semakin meneguhkan arah pendidikannya. Sekolah yang dikenal aktif dengan berbagai inovasi ini kini menambahkan satu pijakan penting: menanamkan pola pikir bertumbuh di setiap warga sekolah.
Dengan semangat itu, sekolah berharap bisa melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, pantang menyerah, dan siap menghadapi tantangan masa depan.