Spempat punya cara berbeda dalam memperingati Hari Tani Nasional. Selasa 30 September 2025, seluruh siswa mulai dari kelas 7 hingga kelas 9 berkumpul di masjid dan serambi masjid sekolah untuk mengikuti kegiatan bertema “Petani Muda dan Petani Hobi”. Alih-alih hanya mendengarkan seminar, mereka diajak langsung berkreasi dan belajar tentang pertanian dengan cara yang lebih dekat dengan dunia remaja.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah praktik membuat terarium. Setiap kelas mengirimkan dua perwakilan untuk ikut serta dalam lomba, sehingga suasana belajar terasa hangat sekaligus kompetitif. Siswa tidak hanya diminta merangkai tanaman dalam wadah kaca, tetapi juga belajar bagaimana merawatnya agar bisa menjadi hobi produktif.
Bunga Ghaniyah, siswa kelas 9A, mengaku mendapatkan berbagai macam informasi tentang cara bertani dan berbagai kreasi dalam bidang pertanian. Menurutnya hal yang selama ini belum ia pahami ternyata seru jika dilakukan bersama teman.
“Seru sekali, karena ada kegiatan praktik membuat terarium dan pematerinya informatif,” ungkap Bunga, siswi kelas 9A.
Sementara itu, Ammara Zhafarani dari kelas 7D mengaku menemukan tantangan tersendiri. Ia mengaku awalnya kesulitan ketika mengikuti praktik langsung membuat terarium.
“Memang ada kesulitan waktu membuat terarium, tapi itu justru menarik. Bisa jadi hobi yang menghasilkan uang,” katanya dengan semangat.

Para guru dan tenaga kependidikan turut mengapresiasi kreativitas siswa. Siti Nurmaya, salah satu tenaga kependidikan, melihat sisi estetik dari karya mereka. Ia tidak menyangka ketika siswa diberikan sedikit pengetahuan tentang terarium, mereka bisa langsung melakukan aksi.
“Keseimbangan dan keserasian dalam merangkai bunga terlihat sangat indah. Kegiatan ini bagus untuk dilanjutkan di program keputrian,” ujarnya.
Selain praktik, siswa juga mendapat materi tentang pentingnya regenerasi petani dan peluang urban farming di era milenial. Dengan pendekatan ini, pesan tentang ketahanan pangan tidak lagi terasa jauh, melainkan hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa mereka jalani.
Kegiatan ini membuktikan bahwa dunia pertanian bisa dikemas dengan cara yang sederhana namun tidak meninggalkan esensi pentingnya bertani. Dari sebuah terarium mungil yang dirangkai di serambi masjid, tumbuh harapan baru bahwa generasi muda tidak akan asing dengan pertanian. Justru dari hal-hal kecil seperti ini, kecintaan pada alam dan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan bisa berakar kuat. Harapannya dari tangan-tangan siswa yang hari ini berkreasi, lahir petani milenial yang kelak memberi warna baru bagi masa depan pertanian Indonesia.