Siswa Spempat Belajar Kesabaran dan Ketelitian Lewat Membatik

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Begitu pepatah Arab mengatakan. Itulah yang mengilhami siswa kelas 8 SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat) menempuh perjalanan ratusan kilometer ke Semarang untuk belajar cara membatik. Cara membatik tulis langsung dari ahlinya.

Bertempat di Batik Semarang 16, Kegiatan ini dilakukan dalam rangka outing class yang merupakan agenda tahunan sekolah.

Berawal dari dibukanya pelatihan membatik untuk ibu ibu yang tinggal di sekitar Jalan Bukit Seroja I Perum Sendangmulyo Tembalang oleh Umi Sumiyati pada tanggal 25 Januari 2005. Sejak itulah berdiri sanggar Batik Semarang 16. Nama Semarang 16 sendiri terinspirasi dari tempat produksi batik yang berada di Kota Semarang. Sedangkan 16 diambil dari Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 16 yang berarti “lebah madu”, yang juga pernah dibuat sebagai motif batik yaitu motif lebah madu.

“Sejak tahun 2006, sanggar batik Semarang 16 menciptakan motif-motif khas Semarang. Ikon-ikon atau landmark Kota Semarang di eksplorasi sebagai motif, misalnya: Lawangsewu (Lawangsewu Ngawang, Lawangsewu Kekliteran Sulur, Lawangsewu Kekliteran Asem), Greja Blendoek (Greja Blendoek Kekliteran Asem), Tugu Muda (Tugu Muda Kekliteran Sulur, Tugu Muda Kekliteran Asem), Klenteng Sam Po Kong (Ceng Ho Neng Klenteng),” ujar Endah Purwanti, pemateri membatik.

Setelah mendapatkan penjelasan tentang sejarah hingga finalisasi proses batik, siswa diarahkan untuk membentuk kelompok. Satu kelompok terdiri atas 5 siswa. Peserta yang berjumlah 75 siswa dibagi menjadi 10 kelompok kecil dengan satu orang pendamping dari Batik Semarang 16. Pendamping siswa ini tiap harinya memang berprofesi sebagai pengrajin batik di Batik Semarang 16.

Siswa mula-mula diajarkan cara memegang canting yang benar, kemudian dipraktikkan cara mengambil lilin sebagai media batik hingga dituntun untuk mengoleskan lilin cair tersebut pada media kain mori putih. Siswa antusias. Kebanyakan dari mereka senang karena kegiatan ini baru kali pertama mereka lakukan.

“Ternyata membatik ini butuh kesabaran dan ketelitian. Netes sedikit lilin cair ke atas kain mori saja akan merusak motif batik itu sendiri. Jadi saya kudu berhati-hati dalam menggoreskan canting,” ujar Arwen Rosyiddin, siswa kelas 8.

Hal serupa juga dikatakan Ari Wahyoelianti, wali kelas 8A yang ikut mendampingi siswa. Ia mengatakan bahwa sempat gemetar ketika kali pertama menggoreskan canting.

“Takut salah, takut belepotan, dan takut bablas tidak sesuai pola batik,” tambah Ari Wahyoelianti.

“Kegiatan membatik ini dalam rangka mengajak siswa belajar tidak hanya di kelas, namun juga bisa dilakukan di luar sekolah dengan bantuan profesional yang ahli di bidangnya. Contohnya ya dalam hal membatik ini,” ujar Laili Rahmi, Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *