Murojaah dan Qiyamullail, Agenda Utama Mabit Siswa Spempat

Menjelang datangnya bulan Ramadan, suasana di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat) tampak berbeda dari biasanya. Di tengah dinginnya angin malam pada Jumat hingga Sabtu (22-23/1/2026), sebanyak 75 siswa kelas tahfidz tidak berada di rumah masing-masing. Mereka memilih “berkhalwat” di sekolah dalam agenda Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT).

Mengusung tema besar “Kuatkan Aqidah, Mantapkan Ibadah”, kegiatan ini bukan sekadar menginap bersama. Ini adalah kawah candradimuka bagi para siswa untuk menempa ketangguhan lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh ujian fisik dan spiritual: Ramadan.

Sinergi Murojaah: Mengunci Hafalan Melalui Kebersamaan

Malam itu, aula sekolah dipenuhi lantunan ayat suci. Tidak ada suara gawai atau hiruk-pikuk obrolan kosong. Dengan pendampingan intensif dari ustaz dan ustazah Pondok Pesantren Nurul Falah Surabaya, para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil.

Strategi pengelompokan ini terbukti efektif. Alviatul Maliqil Ula, siswi kelas 9, merasakan betul manfaatnya. Baginya, murojaah (mengulang hafalan) secara berjamaah memberikan energi yang berbeda dibanding menghafal sendirian.

“Di kelompok ini, kalau saya lupa detail ayat tertentu, teman-teman langsung menyahut membantu. Rasanya lebih fokus dan hafalan jadi lebih menancap,” tutur Alviatul dengan antusias.

Sinergi antara Spempat dan Pesantren Nurul Falah menjadi kunci dalam memantau kualitas hafalan siswa agar tetap terjaga dan mutqin (kuat).

Melawan Kantuk di Sepertiga Malam

Puncak dari penggemblengan mental ini terjadi saat jarum jam menunjukkan sepertiga malam terakhir. Di saat mayoritas remaja seusia mereka terlelap, para siswa Spempat justru bangkit untuk melaksanakan salat malam.

Ritual ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan upaya menanamkan kedisiplinan tingkat tinggi. Panitia memahami bahwa transisi menuju Ramadan membutuhkan kesiapan fisik yang prima. Dengan membiasakan bangun di waktu sahur melalui salat malam, siswa diharapkan tidak lagi kaget saat harus menjalankan ibadah puasa nanti.

Agar suasana tetap segar, panitia menyelipkan berbagai permainan edukatif selepas Subuh. Kombinasi antara spiritualitas dan kegembiraan ini membuat durasi Mabit yang cukup panjang tidak terasa membosankan bagi siswa.

Investasi Karakter Jelang Ramadan

Wakil Kepala Sekolah Bidang Ismuba dan Kurikulum, Zaenal Maftukhin, menegaskan bahwa Mabit adalah investasi jangka panjang untuk karakter siswa. Menurutnya, Ramadan adalah bulan dengan intensitas ibadah yang meningkat drastis, sehingga butuh persiapan yang matang.

“Tujuan kami adalah membentuk pribadi yang tangguh secara lahir dan batin. Kami ingin siswa masuk ke bulan Ramadan bukan dengan kondisi ‘kosong’, melainkan sudah membawa bekal ilmu, iman, dan komitmen yang kokoh,” jelas Zaenal.

Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kedekatan emosional dengan Alquran.

Momentum Perubahan

Kegiatan Mabit ini menjadi pengingat bahwa prestasi terbaik seorang siswa tidak hanya diukur dari angka di rapor, tapi dari seberapa kuat mereka memegang teguh akidah dan konsistensi dalam ibadah. Dengan bekal hafalan dan jiwa yang terlatih di sepertiga malam, 75 siswa tahfidz Spempat kini siap menyongsong Ramadan.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *