Kelas 9C SMP Muhammadiyah 4 Surabaya berubah menjadi “dapur inovasi” pada Senin (26/1). Siswa kelas 9C melakukan eksperimen unik dalam pembelajaran Bioteknologi Konvensional dengan mengolah berbagai biji-bijian non-tradisional menjadi produk pangan bergizi tinggi.
Jika biasanya tempe identik dengan kedelai, siswa kelas 9C mencoba meruntuhkan batasan tersebut. Dibagi menjadi enam kelompok, mereka mengeksplorasi media fermentasi yang sangat beragam. Kelompok 1 mengolah kacang merah, kelompok 2 menggunakan kacang pistachio, kelompok 3 memilih kacang almond, kelompok 4 memanfaatkan kacang hijau, kelompok 5 berinovasi dengan biji bunga matahari, sementara kelompok 6 tetap menjaga kearifan lokal melalui pembuatan tape singkong.
Guru IPA Spempat, Amalia Hanifah, menjelaskan bahwa praktik ini bertujuan agar siswa memahami bahwa sains sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Bioteknologi seringkali dianggap rumit dan hanya ada di laboratorium canggih. Padahal, bioteknologi sangat mudah diterapkan dalam pangan sehari-hari. Dengan alat sederhana di rumah, kita bisa mengubah nilai gizi dan tekstur bahan pangan menjadi lebih baik melalui bantuan mikroba,” ujar Amalia Hanifah.
Namun, eksperimen ini bukan tanpa kendala. Penggunaan bahan premium seperti pada kelompok 2 memberikan tantangan tersendiri dalam proses produksinya. Hal ini dirasakan langsung oleh salah satu siswa, Naira Fella.
“Tantangan terbesarnya adalah menjaga kadar air pada pistachio. Karena teksturnya lebih berminyak dan padat dibanding kedelai, kami harus ekstra hati-hati saat proses perebusan dan pengeringan sebelum diberi ragi. Kalau terlalu basah, jamurnya gagal tumbuh dan malah bisa busuk,” ungkap Naira.
Tidak hanya soal tekstur, ketelitian dalam memilih bahan baku juga menjadi pelajaran berharga bagi siswa lainnya. Dinda Putri Rahima, yang tergabung dalam kelompok tempe kacang hijau, menceritakan pengalaman timnya yang harus menghadapi kegagalan akibat kelalaian teknis saat persiapan.
“Seharusnya beli kacang hijau yang sudah dikupas. Eh, kami malah membuat dari kacang hijau yang belum dikupas. Jadinya ragi kena kulitnya sehingga tempe kami belum berhasil,” ujar Dinda jujur mengenai kendala yang dihadapi kelompoknya.
Melalui kegiatan ini, para siswa belajar tentang peran jamur Rhizopus oryzae dan Saccharomyces cerevisiae secara langsung. Hasil fermentasi ini akan dipantau selama beberapa hari ke depan untuk melihat sejauh mana keberhasilan inovasi pangan yang mereka ciptakan di sekolah.