Seni Bertahan Hidup, Kala Siswa Spempat Memanen Air dari Pucuk Daun

Waktu menunjukkan pukul 15.00 saat puluhan remaja berseragam kepanduan Hizbul Wathan berkumpul di bawah rimbunnya pepohonan Bumi Perkemahan Sumber Wekas, Prigen. Diiringi rintik hujan, di tangan mereka bukan gawai, melainkan lembaran plastik bening dan tali rafia.

Inilah kawah candradimuka bagi 73 siswa SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Sejak Jumat (30/1/2026) hingga Ahad (1/2/2026), mereka menanggalkan kenyamanan kota demi mempelajari satu hukum rimba: bertahan hidup.

Salah satu materi yang menjadi menu wajib adalah teknik transpirasi. Di tengah hutan, saat sumber air permukaan seperti sungai sulit ditemukan, dedaunan hijau adalah penyelamat.

Keajaiban Transpirasi

Para siswa diajarkan untuk teliti memilih dahan pohon yang terpapar sinar matahari langsung. Dengan cekatan, mereka membungkus rimbun dedaunan itu dengan plastik tanpa mematahkan rantingnya. Sebuah batu kecil diletakkan di sudut plastik sebagai pemberat agar air hasil kondensasi terkumpul di satu titik.

Teknik ini memanfaatkan proses alami tumbuhan yang mengeluarkan uap air melalui stomata. Di bawah plastik yang tertutup rapat, uap tersebut terperangkap, mendingin, dan berubah menjadi butiran embun yang jernih.

Rifqi Adnis Sururi, instruktur yang mendampingi para siswa, menegaskan bahwa keterampilan ini berkaitan erat dengan batas daya tahan fisik manusia.

“Dalam skenario bertahan hidup, air adalah prioritas mutlak di atas makanan. Tubuh manusia dewasa terdiri dari sekitar 60-70 persen air. Kehilangan cairan tanpa pengganti akan memicu dehidrasi yang mengacaukan kesadaran dan fungsi organ. Teknik transpirasi adalah cara paling steril untuk mendapatkan air minum di tengah keterbatasan,” papar Rifqi dengan lugas.

Belajar Sabar

Bagi Ardan Nuril, salah satu peserta, kegiatan ini bukan sekadar simulasi teknis, melainkan pelajaran tentang kesabaran. Menunggu tetes demi tetes air terkumpul di dasar plastik memberikan sensasi tersendiri yang tidak ia dapatkan di bangku sekolah.

“Ini pengalaman yang benar-benar baru bagi saya. Biasanya air tinggal tuang dari botol, tapi di sini saya belajar bahwa alam menyediakan segalanya asal kita tahu caranya. Melihat embun mulai mengumpul di plastik itu rasanya seperti menemukan harta karun,” ujar Ardan dengan mata berbinar.

Tak hanya soal air, para siswa juga dibekali teknik snare and trap (jerat) untuk mencari sumber protein protein hewani di situasi darurat.

Kemah HW ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah upaya Spempat dalam membentuk mentalitas tangguh. Di Sumber Wekas, 73 siswa ini belajar bahwa untuk bertahan hidup, manusia tidak boleh melawan alam, melainkan harus bekerja sama dengannya—bahkan melalui selembar plastik dan seikat dedaunan.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *