Kemah HW, Kemenangan Milik Bersama

Langit di atas bumi perkemahan tampak syahdu, Ahad (1/2). Awan mendung berarak rendah, membawa serta gerimis tipis yang membasahi seragam cokelat tua para pandu Hizbul Wathan. Namun, rintik hujan itu tak sanggup memadamkan api semangat yang telanjur menyala sejak hari pertama. Upacara penutupan tetap berlangsung meriah, menutup lembaran petualangan dengan penuh kesan.

Di antara aroma tanah basah dan sisa-sisa kayu bakar, gelak tawa pecah saat pemenang kategori mulai diumumkan.

Bukan Sekadar Menang, Tapi Tentang Bertahan

Predikat Regu Terbaik jatuh kepada Regu Gajah (putra) dan Regu Mawar (putri). Bagi mereka, kemenangan ini adalah bayaran lunas atas perjuangan melintasi rute-rute terjal dan memecahkan teka-teki sulit di setiap pos.

Wisanggeni, sang nahkoda Regu Gajah, bercerita bagaimana timnya harus berkali-kali mengulang simulasi sebelum kemah dimulai.

“Kami latihan berkali-kali untuk setiap kategori, terutama saat memecahkan tantangan di setiap pos. Kuncinya memang fokus pada detail,” ujarnya sambil sesekali mengusap air hujan di wajahnya.

Sentimen yang sama juga dirasakan Nathania Callista. Ketua Regu Mawar ini menekankan bahwa chemistry antaranggota adalah “senjata” rahasia mereka.

“Kerja sama tim itu harga mati. Kalau satu egois, semua bisa buyar. Prestasi ini milik kami bersama,” tutur Nathania santai.

Kecerdasan di Tengah Hutan

Meski fokus pada aktivitas fisik, Kemah HW kali ini juga menguji ketajaman otak. Di sela-sela riuhnya yel-yel, kompetisi Cerdas Cermat dan Story Telling menjadi panggung yang dinanti.

Arwen Rosyiddin tampil memukau dan meraih juara pertama Story Telling lewat narasi yang menghidupkan suasana, disusul Annisa Millah sebagai juara kedua.

Sementara itu, dalam adu cepat tepat Cerdas Cermat, Tufail Yusuf dan Rizwan Putranto serta Audrye Rizkyandra dan Rizka Qori menunjukkan bahwa seorang pandu tak hanya tangkas di lapangan, tapi juga tajam dalam berpikir.

Rendah Hati di Bawah Langit Mendung

Momen paling emosional muncul saat penobatan Peserta Terbaik. Hasan Saputro dan Atika Rana terpilih karena dedikasi dan kepemimpinan mereka selama kegiatan. Menariknya, tak ada nada sombong dari keduanya.

“Penghargaan ini sebenarnya bentuk dukungan teman-teman juga,” cetus Hasan rendah hati. Atika pun menimpali dengan nada serupa, “Saya tanpa teman-teman bukan apa-apa. Penghargaan ini juga untuk mereka yang sudah berjuang bareng di tenda.”

Seiring upacara berakhir dan gerimis perlahan mereda, para peserta mulai mengemas tenda. Mereka pulang bukan hanya membawa trofi atau sertifikat, tapi juga pelajaran tentang bagaimana tetap tegak berdiri meski cuaca tak menentu—seperti yang mereka tunjukkan sore itu di bawah langit mendung.

Apresiasi Tampilan Seni Siswa

Tampilan seni siswa saat api unggun juga mendapatkan apresiasi. Ada dua kelompok yang mendapatkan penghargaan saat pentas seni. Regu itu yang dinakhkodai oleh Nathania dan Naila Putri Ranny. Mereka mengaku bangga dengan kerja keras teman-temannya.

”Kami siapkan latihan dan dress code sebelum kemah dilakukan agar tampilan saat api unggun bisa optimal,” ujar Naila Putri Ranny.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *