SURABAYA – Semangat emansipasi R.A. Kartini tidak lagi sekadar tentang kebaya dan sanggul. Di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, semangat itu bertransformasi menjadi aksi nyata pemberdayaan diri. Memperingati Hari Kartini, sekolah ini menggelar kegiatan Keputrian bertajuk “My Body, My Rules: Berani Bersuara Melawan Catcalling dan Pelecehan” pada Jumat (24/4).
Bertempat di aula sekolah, suasana tampak antusias saat Annisa Fitria, Ketua Umum PD IPM Surabaya, hadir sebagai pemateri utama. Ia menekankan bahwa menghormati perjuangan Kartini di era modern berarti berani menjaga otoritas atas tubuh sendiri.
Edukasi Melalui Aksi: Memutus Rantai Normalisasi
Fokus utama kegiatan ini adalah membekali para siswi dengan keberanian menghadapi pelecehan verbal maupun nonverbal. Fitria menjelaskan bahwa catcalling—seringkali dianggap remeh sebagai sekadar “godaan”—merupakan bentuk pelecehan yang harus diputus rantainya.
“Penting bagi pelajar perempuan memahami bahwa tubuh mereka adalah otoritas pribadi. Kita harus berhenti menormalisasi gangguan sekecil apa pun,” tegas Fitria di hadapan ratusan siswi.
Menariknya, acara tidak hanya berisi pemaparan teori. Para siswi diajak terlibat dalam metode diskusi interaktif dan simulasi role-play. Beberapa murid maju ke depan untuk memperagakan skenario merespons catcalling secara tegas tanpa mengabaikan faktor keselamatan diri.
Membentuk Karakter Perempuan Berdaya
Respon positif datang dari peserta, salah satunya Davina Septia. Ia mengaku materi ini membuka matanya tentang cara menghargai diri sendiri.
“Ternyata, cara terbaik menghormati Ibu Kartini saat ini adalah dengan berani bicara dan tidak membiarkan diri kita direndahkan,” ungkapnya.
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, berharap kegiatan ini mampu melahirkan generasi perempuan yang cerdas dan percaya diri. Melalui pemahaman hak tubuh dan batasan diri, para siswi diharapkan mampu menjaga kehormatan mereka di tengah tantangan sosial masyarakat yang semakin kompleks.
Acara ini menjadi bukti bahwa dari bangku sekolah, karakter perempuan tangguh yang berdaya dan berani bersuara mulai ditempa.