Simulasi Kebakaran Latih Kesigapan Siswa

Sirine kebakaran berbunyi. Pengumuman terjadinya kebakaran di sekolah dikumandangkan oleh guru SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. 257 siswa berlomba-lomba menyelamatkan diri. Mereka tergopoh-gopoh menyusuri tangga sekolah yang ada. Tas sekolah mereka letakkan di atas kepala untuk melindungi dari robohnya bangunan. Pemadaman kebakaran dimulai. Siswa dengan dipimpin guru sudah terbagi menjadi beberapa kelompok, di antaranya kelompok pemadam, keamanan, evakuasi, dan medis. Keempat kelompok itu bahu membahu menjalankan skenario yang sudah diarahkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran. Akhirnya, semua siswa bisa diselamatkan dan dikumpulkan di titik kumpul (assembly point).

Itulah yang terjadi pada saat simulasi kebakaran dan tanggap bencana yang diselenggarakan oleh SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya (10/5). Simulasi ini merupakan bagian akhir pelatihan tanggap bencana dan kebakaran yang sudah dilakukan siswa selama dua bulan penuh.

Di titik kumpul inilah ratusan siswa diberikan praktik pemadaman kebakaran dengan menggunakan karung goni basah. “Awalnya takut terbakar. Ternyata setelah ditutup karung goni, apinya padam,” ujar Tiara Devina, siswa kelas 8.

Selain menggunakan karung goni basah, siswa juga diajarkan cara menggunakan alat pemadam kebarakan (apar). Terlihat canggung wajah mereka ketika praktik menembakkan cairan kimia dari alat pemadam itu. Hitungan detik, api padam. Siswa bersorak kegirangan.

Simulasi kebakaran dan tanggap bencana ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan sekolah. Tujuannya, siswa dan guru bisa melakukan pertolongan pertama ketika kebakaran dan bencana itu terjadi. “Angka kebakaran di Surabaya cukup tinggi sehingga sangat perlu siswa dibekali pengetahuan dan praktik ini sehingga bisa meminimalkan adanya korban jiwa,” tambah Nia Asrianti, relawan MDMC.

Instruktur kebakaran Damkar, Muhammad Mundhir, membenarkan hal itu. Ia senang ketika diundang untuk melakukan simulasi kebakaran di sekolah karena anak usia sekolah cukup tanggap ketika diberi pengetahuan baru. Dalam paparannya, ia menjelaskan tentang wawasan bencana dan kebakaran serta bagaimana cara menanggulanginya.

“Saya bangga pada semangat anak-anak di sekolah. Puasa tak menyurutkan semangat mereka untuk mengikuti simulasi ini. Semoga pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah bisa mereka bagi di masyarakat,” papar Mundhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *