DP5A Surabaya Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Anak pada Siswa SMP Muhammadiyah 4 Surabaya

Sebanyak 60 siswa kelas 8C dan 8D SMP Muhammadiyah 4 Surabaya mengikuti sosialisasi pencegahan kekerasan anak, Rabu (16/11/2022). Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak ini merupakan rangkaian kegiatan road show yang diselenggarakan dalam rangka mewujudkan Kota Surabaya menjadi Kota Ramah Anak.

Lebih lanjut, kegiatan yang diselenggarakan oleh dinas yang juga disebut DP5A ini merupakan salah satu upaya dari Pemerintah Kota Surabaya untuk mewujudkan dan menyemai bakat anak.

“Pertama, saya menyampaikan salam dan harapan dari Pak Eri Cahyadi selaku Wali Kota Surabaya agar Surabaya tidak ada kekerasan, bertumbuh, berkembang, dan belajar sehingga menjadi dewasa yang baik,” kata Nanang Abdul Hanan, petugas dari DP5A.

Menurut Nanang, Kota Surabaya punya mimpi bahwa tahun 2030 semua lembaga yang ada anak di dalamnya harus didampingi. Setelah didampingi, harapannya anak-anak yang ada di lembaga itu dapat mewujudkan cita-citanya dengan nyaman dan tanpa ancaman.

“Pikirkan cita-cita yang terbaik dan harapan kesuksesanmu, tuliskan di kertas yang sudah kamu bawa. Kami di sini berfungsi memfasilitasi supaya kalian dapat mewujudkan cita-cita jika kebetulan menemui kendala,” lanjut Nanang.

Mengenal Konsep Diri

Pada materi konsep diri yang disampaikan, Nanang menyampaikan bahwa mengenal konsep diri berarti seorang anak mulai memerankan peranan dalam lingkungannya. Selain itu, anak yang akan mengenal konsep dirinya harus mengetahui perubahan fisiologis dan pola pikir.

“Anak yang menjelang remaja seperti kalian ini harus mengidentifikasi perubahan sekecil apapun dalam dirimu, contohnya ketika siswa putra mendapatkan mimpi basah. Berarti alat-alat reproduksi pada diri kalian secara alami sudah mulai berfungsi,” jelas Nanang.

Masih menurut Nanang, siswa juga harus menemukenali dirinya, terutama kelebihan dan kekurangannya. Ketika siswa sudah dapat mengenali kelebihannya, maka siswa akan mengetahui bagaimana cara mengembangkan bakat dan minatnya. Pun ketika mengenali kekurangannya, siswa akan berusaha untuk meminimalkan kekurangan itu dan mengubahnya menjadi suatu hal yang positif.

“Aku ini orangnya insecuregak pede. Semua itu kelemahan yang harus aku ubah menjadi orang yang percaya diri,” ujar Keyne Magani Nugroho, siswa kelas 8D, pada sesi pengenalan konsep diri.

Alifwati Citra Iqlimasari, guru BK, menjelaskan bahwa memang wajar ketika siswa SMP insecure pada penampilannya dan kemampuannya. Dalam tahap mencari jati diri ini, siswa harus selalu didampingi agar tidak salah langkah.

“Guru harus berfungsi sebagai pamong dan teman curhat siswa sehingga dapat mendampingi siswa untuk meraih kesuksesannya, menebalkan laku positifnya, dan mengikis kekurangannya,” pungkas Alifwati.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *