Lantunan ayat Al-Qur’an juz 30 menggema. Ayat-ayat Al-Qur’an itu dibaca tartil dengan empat irama berbeda dan empat murid yang berbeda. Mereka di antaranya Ayu Azza Zahira dengan irama Rast, Kayla Ainur Rizqia irama Nahawand, Ridho Budi Utomo dengan irama Hijaz, dan Arul Evansyah dengan irama Bayati. Parade irama tartil itu membuka wisuda Al-Qur’an VII SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat), Sabtu (11/3).
Arul Evansyah, salah satu pembaca tartil, mengungkapkan bahwa irama-irama tartil yang dipertunjukkan pada pembukaan acara wisuda merupakan irama yang sudah diajarkan selama ini. Tidak hanya makhraj dan tajwid saja yang diajarkan melainkan juga irama membaca tartil Al-Qur’an.
“Sempat gugup karena saya kurang benar melafalkan tartil dengan nada yang sudah ditentukan. Alhamdulillah, tadi sempat dipancing oleh salah satu ustaz dan akhirnya ingat kembali,” katanya.
Arul menambahkan, ia mendapatkan kesempatan untuk membaca ayat Al-Qur’an pada bagian terakhir. Dengan demikian, ia melafalkan ayat Al-Qur’an dengan irama Bayyati.
“Memang biasanya irama itu digunakan sebagai pembuka dan penutup,” tambah siswa kelas 9 ini.
Rohimah SAg, pembina tartil sekolah berbasis pesantren ini, menyebutkan bahwa irama yang sudah diajarkan selama ini kepada murid memang ada empat. Namun salah satu irama, yaitu irama Bayyati, baru diajarkan kepada murid.
“Wajar jika tadi siswa kami, Arul Evansyah, ada yang lupa iramanya. Memang kami baru mengajarkannya dan mempraktikkannya dalam wisuda kali ini,” ujar Rohimah.
Selanjutnya, setelah wisuda ini, tim dari Pondok Pesantren Nurul Falah yang merupakan tim pengajar tartil Spempat akan semakin mengintensifkan pengajaran irama tartil Al-Qur’an siswa.
“Semoga dengan momen ini, tidak hanya makhraj dan tajwid siswa saja yang bagus, namun pembacaan irama tartil siswa juga semakin mantap,” harap Rohimah.