Peringati Milad dengan Kunjungi Museum Muhammadiyah

Sebanyak 110 siswa kelas 8 dan guru karyawan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya kunjungi Museum Muhammadiyah yang berada di Kompleks Kampus Universitas Ahmad Dahlan, Sabtu (18/11/2023). Di museum yang diresmikan pada tahun 2022 itu, siswa dan guru karyawan mengamati berbagai jejak sejarah Muhammadiyah. Kegiatan mengunjungi museum Muhammadiyah ini dalam rangka wisata budaya dan lingkungan sekaligus untuk memperingati Milad ke-111 Muhammadiyah.

Zaenal Maftukhin, Ketua Panitia Wisata Budaya dan Lingkungan, mengatakan bahwa kunjungan museum ini memang sengaja diselenggarakan bertepatan dengan milad Muhammadiyah. Harapannya, sekolah ingin menumbuhkan spirit dan ghirah ber-Muhammadiyah pada siswa beserta guru karyawan dengan mempelajari sejarah di museum Muhammadiyah.

“Tidak menyangka Muhammadiyah punya museum yang menceritakan timeline sejarah seperti ini. Tidak hanya itu, di sini siswa seolah membaca buku besar sejarah Muhammadiyah yang belum pernah diajarkan di sekolah,” ujarnya

Foto Ketua Umum Muhammadiyah dari masa ke masa

Memasuki pintu lantai pertama, langsung disuguhkan berbagai foto Ketua Umum Muhammadiyah. Bergeser di ruang lainnya, terdapat globe setengah bola dengan bentuk cekung.

‘’Ruangan ini langsung terkena sinar matahari dan globe ini menampung cahaya. Demikian juga harapannya agar Muhammadiyah sebagai matahari yang menyinari dan mecerahkan bumi,’’ tutur Isna Sholihah, pemandu museum. 

Pemandu menjelaskan seluk beluk globe yang ada di lantai 2 museum

Beberapa buku replika yang pernah diterbitkan oleh para tokoh Muhammadiyah terpampang rapi di belakang globe tersebut. Ini menggambarkan pencerahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah di antaranya melalui ilmu di bidang pendidikan. Selain itu, ini sebagai bukti bahwa Muhammadiyah mempunyai sejarah panjang dalam bidang literasi. 

Di samping rak buku terdapat dinding yang terpampang beberapa pahlawan yang merupakan tokoh Muhammadiyah. Selain, KH Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah terdapat dr Soetomo, Otto Iskandar Dinata, Ir Sukarno, KH Fachrudin, Ki Bagus Hadikusumo, KH Mas Mansur, hingga Prof Drs H Lafran Pane sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari 1947. Ini menunjukan bahwa Muhammadiyah lahir dan berkembang karena peran serta para pahlawan bangsa ini.

Pemandu memamerkan aplikasi augmented reality sebagai pelengkap penjelasan

Syawalia Zahra Afiqah, siswa kelas 8, yang mengikuti kegiatan ini mengaku takjub dengan bangunan museum Muhammadiyah. Ia terkesima dengan berbagai fasilitas yang ada di dalam museum.

“Tadi globe-nya bisa divideo menggunakan aplikasi augmented reality. Dari aplikasi tersebut, terpampang jelas di negara mana saja PCI Muhammadiyah berkembang,” ujarnya.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *