Meningkatkan Kesadaran Antiperundungan di Sekolah

Apakah saling ejek dan perundungan masih terdengar di sekolah Anda? Apakah ada yang menegur jika saling ejek dan perundungan pada murid lain terjadi? Bagaimana solusi untuk mengatasi saling ejek dan perundungan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering terlintas ketika memasuki gerbang sekolah. Sekolah yang merupakan ekosistem pendidikan pastinya terdiri atas latar belakang individu yang berbeda. Latar belakang keluarga juga turut mempengaruhi pemikiran dan respon anak terhadap lingkungannya. Karena seorang anak hidup di tengah keluarga yang jarang memperhatikannya, maka ia menunjukkan respon ingin diperhatikan di sekolah. Ada yang menunjukkan respon positif dan ada pula yang menunjukkan respon negatif.

Respon negatif dari seorang anak di sekolah ini yang sering menimbulkan sikap perundungan dan mulai mengejek teman sebayanya di sekolah. Kejahilan juga ditunjukkan di antara rekan sebayanya. Bukan tidak mungkin, akan terjadi perkelahian hingga tawuran jika kejadian ini tak kunjung diatasi.

Perundungan fisik dan verbal yang ditunjukkan seorang anak merespon negatif lingkungannya juga dapat menimbulkan sikap inferior kepada rekan yang dirundung. Takut pergi ke sekolah dan takut melapor ke guru jadi akibat yang harus dirasakan siswa yang mengalami perundungan.

Merespon hal tersebut, dibentuklah agen perubahan antiperundungan di sekolah. Mereka terdiri atas tiga puluh siswa gabungan dari kelas 7 hingga kelas 9. Tentunya, siswa tersebut merupakan siswa pilihan dari semua murid yang ada di sekolah.

Mekanisme pemilihannya, sekolah menyebarkan angket kepada siswa tentang teman yang sering dijumpai dan yang sering tidak dijumpai. Hasilnya, siswa yang sering dijumpai dan yang paling sering tidak dijumpai itu akan menjadi calon agen perubahan yang akan melalui serangkaian pelatihan mengenai manajemen konflik, sosialisasi antiperundungan, hingga hal-hal apa saja yang dilakukan ketika perundungan terjadi di sekolah.

Setelah empat bulan siswa terpilih dilatih, mereka menjadi agen perubahan antiperundungan di sekolah. Sosialisasi antiperundungan mereka lakukan di sekolah. Berbagai flyer dan banner mereka buat. Di setiap kelas, dengan seizin wali kelas, mereka kerap menyampaikan yel-yel dan semangat antiperundungan setelah doa pagi dilakukan.

Ketika menemui perundungan di kelas, mereka juga sigap merespon keadaan. Dengan manajemen konflik yang mereka kuasai, mereka lebih dulu melakukan teknik segitiga restitusi ke teman yang melakukan perundungan. Mereka membuat komitmen. Jika komitmen itu tidak dilakukan, hal terakhir yang dilakukan adalah melakukan komunikasi kepada guru BK dan kesiswaan.

Setelah satu tahun berjalan, kegiatan ini menuai dampak positif. Olok-olokan nama orang tua, mengejek fisik, perundungan fisik atau verbal sangat jauh berkurang. Siswa semakin menyadari bahwa di dalam sekolah mereka merupakan keluarga. Adanya perundungan akan membuat renggang hubungan antarteman.

Guru dan tenaga kependidikan yang merasakan hal baik ini mendukung penuh kegiatan antiperundungan di sekolah. Mereka membantu mendesainkan berbagai flyer dan banner gerakan antiperundungan yang digagas agen perubahan. Selain itu, orang tua juga mendukung kegiatan ini. Flyer sosialisasi antiperundungan yang dibuat, juga disosialisasikan secara luas.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *