Khidmatnya Munaqasyah di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya: Cetak Generasi Cinta Al-Qur’an

Surabaya — Nuansa serba putih memenuhi Masjid Syuhada di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Gadung, Sabtu (1/2). Murid beserta wali murid SMP Muhammadiyah 4 Surabaya (Spempat) berkumpul untuk mengikuti acara munaqasyah, sebuah ujian hafalan Al-Qur’an yang telah menjadi agenda tahunan sekolah berbasis pesantren tersebut.

Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, mengungkapkan rasa syukur atas bertambahnya jumlah siswa yang mengikuti munaqasyah tahun ini. Sebanyak 111 siswa dengan tekun menjalani ujian hafalan yang terbagi dalam dua kategori: munaqasyah bil hifdhi (hafalan) dan bin nadhor (membaca dengan tartil).

“Hafalan Al-Qur’an harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sekadar hafal semata. Mudah-mudahan peserta munaqasyah ini menjadi pemimpin yang berakhlaqul karimah dan berprestasi,” ujar Laili Rahmi dalam sambutannya.

Selain menekankan pentingnya hafalan Al-Qur’an, ia juga menegaskan komitmen sekolah dalam meningkatkan layanan pendidikan di bidang akademik dan keterampilan.

Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah

Yeni Charisma Wati, staf Ismuba yang juga guru PPKn, menyatakan bahwa munaqasyah menjadi momentum penting untuk memacu semangat siswa dalam hafalan Al-Qur’an. Ia mengapresiasi peningkatan antusiasme siswa dari tahun ke tahun.

“Alhamdulillah, progres murid yang mengikuti ujian semakin meningkat. Semoga ini pertanda bahwa semangat murid dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an terus bertambah,” ujarnya.

Yeni juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung hafalan Al-Qur’an. “Munaqasyah adalah hasil kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Semoga ke depannya semakin banyak generasi cinta Qur’an yang lahir dari sini,” tambahnya.

Proses Ujian yang Khidmat

Dalam pelaksanaan munaqasyah, setiap peserta dipanggil satu per satu untuk diuji oleh penguji dari Pondok Pesantren Nurul Falah yang telah bekerja sama dengan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya selama delapan tahun. Sistem ujian yang diterapkan mengharuskan peserta melanjutkan bacaan ayat yang dibacakan secara acak oleh penguji. Mereka dinilai berdasarkan irama, tajwid, dan makhraj.

Orang tua yang turut mendampingi anak-anak mereka selama ujian tampak bangga dengan pencapaian putra-putrinya. Tak jarang suasana haru menyelimuti pelaksanaan ujian. Beberapa orang tua bahkan menyelipkan doa dan harapan untuk putra-putrinya.

Maihar Oviek, ibunda Saniya dari kelas 8B, mengungkapkan harapannya dengan penuh haru.

“Semoga setelah lulus dari SMP, putri kami lebih rajin membaca Al-Qur’an di rumah, lebih paham ilmu tajwid, dan menjadi pribadi yang berakhlak baik,” ujarnya penuh harap.

Refleksi dan Evaluasi

Setelah ujian selesai, penguji mencatat kekurangan peserta untuk disampaikan dalam sesi refleksi. Hal ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi agar siswa dapat memperbaiki hafalannya di masa mendatang. Dengan semangat yang terus menyala, munaqasyah di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya menjadi simbol kolaborasi yang harmonis antara sekolah, orang tua, dan siswa dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlakul karimah.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *