SMP Muhammadiyah 4 Surabaya mengadakan kegiatan Kemah Hizbul Wathan (HW) pada Jumat (14/2) di Bumi Perkemahan Mahanaim, Trawas, Mojokerto. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan agenda rutin tahunan sekolah.
Menurut Asep Saputro, Pembina HW SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, kemah ini menjadi sarana praktik langsung materi HW yang telah diajarkan di sekolah.
“Selain itu, kami berharap siswa dapat mengembangkan kemandirian dan keterampilan bekerja sama dalam kelompok,” ujarnya.

Pada hari pertama kemah, siswa diajak mempraktikkan materi sandi morse, semaphore, dan penggunaan tandu. Ketiga materi ini dinilai penting sebagai bekal siswa dalam situasi darurat, terutama saat melakukan rescue atau penyelamatan di alam.
Syawalia Zahra Afiqah, pemateri dari Bina Karya Mandiri, menjelaskan bahwa ketiga kegiatan tersebut saling berkaitan.
“Tandu digunakan untuk menolong korban, sedangkan semaphore dan morse berfungsi sebagai alat komunikasi darurat saat terjadi kegawatan dalam penjelajahan,” jelasnya.
Membangun Kemandirian dan Kerja Sama
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter siswa. Melalui kemah HW, siswa diharapkan mampu menghadapi tantangan di alam terbuka dengan percaya diri dan tanggap terhadap situasi darurat.

“Ini adalah momen bagi siswa untuk belajar mandiri dan mengasah kemampuan bekerja sama dalam tim,” tambah Asep.
Dengan lokasi perkemahan yang asri dan jauh dari keramaian kota, siswa juga diajak untuk lebih dekat dengan alam. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berharga sekaligus mempersiapkan siswa menjadi generasi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai situasi.
Kemadukan pendidikan karakter dengan keterampilan praktis, Kemah Hizbul Wathan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya menjadi ajang yang dinantikan setiap tahun. Melalui kegiatan ini, sekolah berkomitmen untuk terus membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga terampil dan peduli terhadap lingkungan sekitar.