Bikin Tempe di Kelas? Begini Keseruan Siswa Kelas 9

Surabaya — Inovasi pembelajaran terus digaungkan di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Kali ini, siswa kelas 9C menunjukkan antusiasme tinggi dalam kegiatan praktik pembuatan tempe yang digelar pada Selasa, (15/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran IPA materi fermentasi, di bawah bimbingan guru IPA, Amalia Hanifah.

Antusiasme itu terlihat dari semangat siswa ketika berkelompok. Mereka dengan percaya diri memperlihatkan kedelai yang telah direndam dalam wadah masing-masing. Siswa kelas 9C tersebut tak hanya menunjukkan hasil kerja mereka, tapi juga memahami setiap tahap proses ilmiahnya.

“Proyek ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami konsep fermentasi secara teoritis, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana mikroorganisme bekerja dalam proses biologis,” jelas Amalia Hanifah.

Ia menambahkan bahwa melalui praktik ini, siswa bisa belajar dengan cara yang lebih aktif, kolaboratif, dan bermakna.

Proses pembuatan tempe yang dilakukan para siswa dimulai dari perendaman biji kedelai selama 24 jam. Selanjutnya, kulit kedelai dipisahkan dan biji direbus hingga matang. Setelah proses pengeringan, kedelai dicampur dengan ragi tempe (Rhizopus oligosporus), kemudian dibungkus rapat dan disimpan selama dua hari di suhu ruangan agar fermentasi berjalan optimal.

Firzana, siswa kelas 9C, mengaku bahwa pengalaman ini sangat menyenangkan.

“Saya jadi tahu bahwa tempe tidak langsung jadi dari kedelai, ada proses panjang yang harus dilewati. Ini mengajarkan kami untuk sabar dan teliti,” ujarnya sambil tersenyum.

Umi Zahro menambahkan, “Belajar seperti ini lebih mudah dipahami karena kami mengalami sendiri, bukan hanya membaca buku.

Raghnal, dari kelompok putra, juga merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.

“Saya baru tahu kalau jamur bisa punya peran baik seperti dalam pembuatan tempe. Ini bikin saya lebih tertarik belajar IPA,” katanya, disambut anggukan dari Aula Rizky yang menjadi rekan kelompoknya.

Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat mendukung inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik langsung. Siswa bukan hanya dituntut untuk mengerti materi, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan bekerja sama. Ini bagian dari pendidikan karakter yang kami bangun di sekolah ini,” tuturnya.

Ia berharap metode seperti ini bisa terus diterapkan dan ditingkatkan, karena mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan hidup dan kepekaan sosial.

Dengan semangat belajar yang tinggi, kolaborasi yang solid, dan dukungan penuh dari para guru serta pimpinan sekolah, pembelajaran IPA di kelas 9C menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan bisa diajarkan dengan cara yang menyenangkan, aplikatif, dan penuh makna.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *