Maulid Nabi di Spempat, Ajak Siswa Teladani Akhlak Rasulullah

Semangat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW begitu semarak di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Senin 8 September 2025, para siswa memadati Masjid Syuhada di Komplek Pendidikan Muhammadiyah Gadung untuk mengikuti acara tausiyah Maulid Nabi. Acara ini bukan sekadar peringatan rutin, melainkan momen penting untuk memperkuat keimanan dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Sebagai pembuka, suasana hening dan khusyuk menyelimuti masjid saat dua siswa, Arwen Rosyiddin dan Azka Quanita Putri, membacakan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Lantunan suara merdu menggema, menambah kekhusyukan para peserta.

Setelah itu, Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, menyampaikan sambutan hangatnya. Laili Rahmi tidak hanya mengapresiasi kerja keras seluruh pihak—mulai dari guru, karyawan, anggota IPM Spempat, hingga para siswa—tetapi juga menekankan pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW.

“Tentunya Nabi Muhammad adalah sebaik-baik teladan bagi kita semua,” ujar Laili, mengingatkan para siswa tentang esensi acara. Pesannya jelas bahwa setiap tindakan dan perilaku Rasulullah adalah cerminan sempurna yang harus diikuti oleh umat Islam.

Menjadikan Rasulullah Sebagai Teladan Hidup

Inti dari acara ini adalah tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Mukhlisin. Dalam ceramahnya, beliau langsung menyentuh hati para hadirin dengan mengutip firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21. Ustaz Mukhlisin menjelaskan bahwa ayat ini merupakan landasan utama untuk menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah atau suri teladan yang baik.

“Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi seluruh umat manusia,” terangnya. Beliau menekankan bahwa meneladani Rasulullah adalah kunci bagi siapa saja yang mengharapkan rahmat dan keselamatan di hari akhir.

Lebih lanjut, Ustaz Mukhlisin menghubungkan materi tausiyahnya dengan tema acara, yaitu “meningkatkan iman dalam menggapai keimanan.” Beliau menjelaskan bahwa tanpa dasar iman yang kuat, segala sesuatu akan terasa berat.

“Segala sesuatu yang tidak dilandasi iman maka akan terasa berat, salah satunya tentang meneladani akhlak Rasulullah,” jelasnya.

Pesan ini menggarisbawahi bahwa meneladani Rasulullah bukan hanya sebatas perbuatan, tetapi harus diawali dengan keyakinan yang mendalam di dalam hati.

Tiga Indikator Iman yang Kuat dan Kisah Abu Jahal

Ustaz Mukhlisin kemudian merinci tiga indikator iman yang perlu dimiliki setiap Muslim. Pertama, membenarkan semua ajaran yang disampaikan Allah melalui Rasulullah. Kedua, mengakui keesaan Allah dan bersaksi bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Ketiga, mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam ceramahnya, Ustaz Mukhlisin juga mengisahkan cerita menarik tentang Abu Jahal untuk memberikan contoh nyata tentang kurangnya iman. Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa segala perbuatan manusia dicatat oleh malaikat, Abu Jahal justru menanggapi dengan penuh kebencian. Ia bahkan sesumbar akan menjadi orang pertama yang melempari malaikat dengan batu.

“Itulah tanda jika orang tidak beriman kepada Allah, salah satunya ya Abu Jahal tadi,” tambah Ustaz Mukhlisin.

Kisah ini menjadi penutup yang kuat, menegaskan bahwa iman bukan sekadar kata, melainkan sebuah keyakinan yang diwujudkan dalam tindakan dan ketundukan kepada Allah SWT. Acara ini berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa, memotivasi mereka untuk terus memperkuat iman dan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *