Lidah Menjulur, Siswa Spempat Tak Gentar Sentuh Ular Raksasa

Edukasi Satwa Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional: Belajar Langsung dari Ahlinya

Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) di SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Senin (24/11), berlangsung meriah. Ratusan siswa tampak serius mengamati gerak-gerik ular sanca kembang berwarna kuning yang badannya seukuran paha orang dewasa. Momen yang jarang terjadi ini menjadi bagian dari upaya sekolah menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap pelestarian flora dan fauna khas Indonesia.

Meskipun HCPSN rutin diperingati setiap 5 November, Koordinator kegiatan, Amalia Hanifah, menjelaskan bahwa tanggal peringatan disesuaikan dengan padatnya agenda sekolah.

“Tujuannya tetap sama, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian flora dan fauna. Ini adalah komitmen kami agar siswa tak hanya pintar di kelas, tapi juga peduli lingkungan,” ujarnya.

Belajar Langsung dari Pakar: Antara Ular Tak Berbisa dan Etika Merawat Peliharaan

Dalam kegiatan edukatif yang digelar di Masjid Syuhada, Spempat menggandeng dua pihak yang berkompeten: Family Satwa Sidoarjo dan drh. Rara Irbah. Kerja sama ini menunjukkan bahwa Spempat berkomitmen memberikan pengalaman belajar yang holistik dan kontekstual. Sumber belajar tidak hanya ada di buku teks pelajaran melainkan juga komunitas di sekitar sekolah.

Muhammad Tohir, dari Family Satwa Sidoarjo, atau yang akrab disapa Pakde Tohir, memberikan materi krusial mengenai penanganan ketika menjumpai binatang melata, khususnya ular. Edukasi ini dinilai sangat penting, mengingat bulan-bulan sebelumnya merupakan puncak waktu ular menetas.

“Memang bulan kemarin merupakan puncak waktu ular menetas sehingga banyak dijumpai anakan ular yang berkeliaran,” jelasnya.

Pakde Tohir membawa berbagai jenis ular hasil penyelamatan yang terjamin tidak berbisa. Meski demikian, ia tetap mewanti-wanti siswa agar waspada.

“Meskipun tidak berbisa, kita juga harus waspada akan gigitannya yang juga mengandung bakteri,” tambahnya.

Melengkapi sesi edukasi, drh. Rara Irbah menjelaskan etika dan cara merawat binatang peliharaan. Ia menekankan bahwa setiap binatang adalah makhluk hidup yang harus dihargai dan dilindungi.

“Kita harus memperhatikan bagaimana makan dan kondisi kandangnya. Jangan sampai kedua hal tersebut memprihatinkan karena berdampak pada kondisi hewan,” tuturnya.

Tantangan Menakutkan Jadi Pengalaman Berharga

Setelah sesi teori, siswa beranjak ke lapangan sekolah untuk berinteraksi langsung dengan berbagai satwa, seperti ular, burung hantu, iguana, kelinci, dan kura-kura. Momen ini menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk belajar langsung.

Sendy Sendyaga, salah satu siswa, mengaku awalnya diselimuti rasa takut, terutama saat melihat ular. Namun, setelah mendapat penjelasan bahwa satwa-satwa yang dihadirkan tidak berbisa, ia pun memberanikan diri.

“Berat sekali ketika dibawa. Awalnya takut, tapi lama-lama terbiasa. Lidahnya yang kadang keluar itu yang bikin ngeri,” ujar Sendyaga sambil memegang ular sanca.

Kesempatan untuk menyentuh dan membawa satwa langka ini tidak hanya menghilangkan rasa takut, tetapi juga menumbuhkan empati dan keberanian. Siswa-siswi SMP Muh 4 dapat merasakan langsung tekstur kulit iguana, berat badan ular, hingga kelembutan bulu kelinci.

Pengalaman langsung ini membuktikan komitmen SMP Muhammadiyah 4 Surabaya untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Kurikulum Merdeka di sekolah ini tidak hanya terbatas pada buku pelajaran, tetapi diperluas melalui kegiatan lapangan yang mendidik, menumbuhkan karakter peduli lingkungan, dan meningkatkan keberanian (mental). Siswa Spempat siap menjadi generasi yang cerdas di kelas dan unggul dalam kepedulian nyata.

Acara diakhiri dengan sesi photobooth. Pada sesi kegiatan ini, siswa dapat mengabadikan kebersamaannya dengan hewan-hewan yang dibawa oleh Family Satwa Sidoarjo.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *