Bukan Hasil Ngoplos, Begini Cara Sahabat Nabi Raih Warisan Rp6,2 Triliun

Kekayaan yang melimpah tidak akan membawa petaka selama pemiliknya memiliki mentalitas sedekah. Itulah inti tausiyah yang disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Ustadz Muhammad Lutfi, dalam pengajian rutin guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Ahad (11/1).

Bertempat di kediaman Ustazah Yeni, pengajian ini menjadi momentum refleksi diri bagi seluruh staf pendidik. Ustaz Lutfi menekankan bahwa sedekah bukan sekadar mengeluarkan uang, melainkan sebuah investasi spiritual yang mampu mengubah nasib, menolak bala, hingga menyelamatkan nyawa di medan perjuangan.

Keutamaan Sedekah: Magnet Rezeki yang Tak Masuk Akal

Ustaz Lutfi mengisahkan bagaimana Abdurrahman bin Auf membuktikan bahwa sedekah adalah magnet rezeki yang paling kuat. Saat beliau mencoba “membuang” hartanya dengan membeli seluruh kurma busuk (gosok) di Madinah demi menolong petani yang merugi, Allah SWT justru mengirimkan tabib dari Yaman untuk membeli kurma tersebut dengan harga selangit.

“Secara logika matematika manusia, Abdurrahman bin Auf seharusnya bangkrut. Namun, logika sedekah berkata lain. Siapa yang menolong hamba Allah yang kesulitan, maka Allah sendiri yang akan mengurus urusannya,” ujar Ustaz Lutfi. Pelajaran ini mengingatkan kita bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, melainkan justru membersihkan dan melipatgandakannya.

Kekayaan Halal dan Berkah: Warisan Triliunan Rupiah

Dalam paparannya, Ustaz Lutfi juga menyajikan data mencengangkan tentang lima sahabat Nabi terkaya. Beliau menyebutkan Abdurrahman bin Auf meninggalkan warisan senilai Rp6,2 triliun, disusul Zubair bin Al-Awwam dengan warisan Rp3,5 triliun.

Poin penting yang ditekankan adalah sumber kekayaan tersebut. “Harta mereka triliunan, tapi itu semua murni hasil dagang yang jujur, bukan hasil mengoplos solar dengan pertalite atau cara haram lainnya. Keutamaan sedekah terpancar dari bagaimana mereka mendapatkan harta dengan cara yang bersih (thayyib) sehingga harta tersebut menjadi saksi kebaikan di akhirat,” tegasnya.

Sedekah Nyawa: Pengorbanan di Perang Uhud

Lebih jauh, Ustaz Lutfi mengaitkan sedekah dengan pengorbanan tertinggi, yaitu sedekah nyawa. Hal ini terbukti dalam peristiwa Perang Uhud. Saat kondisi sangat genting di mana Rasulullah SAW terjatuh ke parit hingga geraham beliau patah terkena tombak, para sahabat kaya ini tidak lari menyelamatkan hartanya, melainkan justru menyedekahkan tubuh mereka untuk melindungi Nabi.

Dari 9 pengawal, 7 orang gugur. Tersisa dua pahlawan besar: Saad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah. “Thalhah bin Ubaidillah adalah orang kaya raya, tapi di Perang Uhud, beliau menyedekahkan tangannya untuk menangkis anak panah demi melindungi Rasulullah hingga jarinya cacat. Inilah puncak dari keutamaan sedekah; ketika seseorang sudah tidak lagi mencintai dunianya melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya,” urai Ustaz Lutfi dengan nada haru.

Inspirasi untuk Guru dan Karyawan

Melalui rangkaian kisah tersebut, pengajian ini bertujuan menanamkan karakter kedermawanan bagi keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Surabaya. Sedekah tidak hanya dilakukan saat lapang, tapi juga saat sempit, seperti para sahabat yang tetap berjuang meski dalam kondisi fisik yang terluka.

“Mari kita jadikan sekolah kita tempat mengabdi yang penuh keberkahan. Jangan takut rugi karena membantu sesama, karena Allah telah menjamin bahwa setiap butir kebaikan akan dibalas dengan berlipat ganda,” tutup Ustaz Lutfi mengakhiri tausiyahnya.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *