Praktik Prakarya Spempat, Mengolah Potensi Pangan Lokal Menjadi Hidangan Berkelas dan Sehat

Bau harum adonan kukus menyeruak dari ruang kelas 8C SMP Muhammadiyah 4 Surabaya pada Selasa pagi (27/1/2026). Pagi itu bukan sekadar pelajaran teori biasa; para siswa sedang melakukan “revolusi” kecil di atas piring saji. Mengangkat tema pengolahan bahan pangan serealia, kacang-kacangan, dan umbi, mereka membuktikan bahwa pangan lokal mampu bersaing dengan kuliner modern.

Inovasi Kuliner: Dimsum Ubi Ungu Keju

Salah satu primadona dalam sesi praktik ini adalah Dimsum Ubi Ungu Keju. Jika biasanya ubi hanya dinikmati dengan cara direbus atau digoreng konvensional, tangan kreatif siswa kelas 8C mengubahnya menjadi camilan estetik dengan perpaduan rasa manis alami dan gurihnya keju.

“Tantangan terbesarnya adalah menjaga tekstur kulit agar tidak pecah saat dikukus, serta menyeimbangkan rasa ubi dengan filling keju,” ujar Dimas Putra Imaru, salah satu siswa yang terlibat. Menurutnya, pengalaman ini membuka mata bahwa bahan pangan yang murah dan mudah ditemukan bisa bertransformasi menjadi hidangan bernilai jual tinggi.

Ari Wahyoelianti, guru mata pelajaran Prakarya, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian siswa dalam memodifikasi resep. “Mereka mampu berpikir kritis. Mengubah ubi menjadi dimsum bukan sekadar soal rasa, tapi soal cara pandang terhadap potensi pangan lokal,” tuturnya.

Pembelajaran Kontekstual: Lebih dari Sekadar Beras

Kegiatan ini sejalan dengan visi sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada teks buku, tetapi juga menyentuh realitas lingkungan sekitar.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Zaenal Maftukhin, menegaskan bahwa kurikulum saat ini harus bersifat kontekstual. Siswa diajak untuk mengenali kekayaan agraris di sekitarnya sebagai solusi ketahanan pangan masa depan.

“Banyak sekali potensi pangan di sekitar kita yang bisa digunakan sebagai pengganti karbohidrat. Jadi siswa tidak hanya tahu beras saja sebagai sumber energi primer,” ujar Zaenal di sela-sela peninjauan praktik.

Beliau menambahkan bahwa edukasi mengenai diversifikasi pangan sangat penting untuk membangun kemandirian pangan sejak dini. Dengan memahami alternatif karbohidrat seperti umbi-umbian dan serealia, siswa juga belajar mengenai pola makan sehat yang lebih bervariasi.

Mengapa Harus Pangan Lokal?

Pemanfaatan ubi, kacang-kacangan, dan serealia dalam menu harian memiliki keunggulan ganda:

1. Kesehatan: Umbi-umbian memiliki indeks glikemik yang cenderung lebih rendah dan kaya akan serat serta antioksidan (terutama pada ubi ungu).

2. Keberlanjutan: Mengonsumsi pangan lokal berarti mengurangi jejak karbon distribusi pangan dan mendukung petani lokal.

3. Ekonomi Kreatif: Modifikasi resep seperti yang dilakukan siswa kelas 8C adalah langkah awal menumbuhkan jiwa entrepreneurship berbasis potensi daerah.

Kegiatan yang ditutup dengan sesi makan bersama dan evaluasi rasa ini menjadi bukti bahwa ruang kelas bisa menjadi laboratorium inovasi. Melalui keterampilan praktis ini, lulusan SMP Muhammadiyah 4 Surabaya diharapkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cekatan dalam mengolah peluang di lingkungan mereka.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *