Rahasia ‘Gaya Lorentz’ di Balik Tawaf: Pesona Manasik Haji Siswa Spempat

SURABAYA – Gema talbiah “Labbaik Allahumma Labbaik” membahana di kompleks Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Selasa (3/2). Di bawah terik matahari pagi, sebanyak 75 siswa kelas 9 SMP Muhammadiyah 4 Surabaya tampak khusyuk mengikuti simulasi rukun Islam kelima dalam gelombang kedua praktik manasik haji massal.

Namun, ada yang berbeda dalam persiapan kali ini. Sebelum memulai ritual, para siswa dibekali penjelasan ilmiah yang memikat oleh Mualim, guru Al Islam. Ia membedah filosofi arah tawaf menggunakan pendekatan ilmu fisika: Aturan Tangan Kanan Lorentz.

Filosofi Fisika di Balik Tawaf

Mualim menjelaskan bahwa putaran tawaf yang berlawanan arah jarum jam bukanlah tanpa alasan. Secara ilmiah, jika sebuah medan bergerak berlawanan arah jarum jam, maka akan timbul gaya dorong ke atas.

“Ka’bah memiliki kekuatan untuk mengantarkan energi ke Arsy Allah. Energi ini dihimpun dari jutaan manusia yang bertawaf tanpa henti. Jika arahnya searah jarum jam, gaya yang timbul justru mengarah ke bawah,” papar Mualim di hadapan para siswa yang menyimak dengan saksama.

Penjelasan ini memberikan dimensi baru bagi para siswa—bahwa ibadah bukan sekadar ritual mekanis, melainkan sebuah harmoni energi alam semesta yang terpusat di Masjidil Haram sebagai titik koordinat kiblat dunia.

Perjalanan Penuh Semangat dengan Angkot

Siswa putra dengan didampingi wali kelas, setelah mengikuti kegiatan praktik manasik haji

Antusiasme siswa sudah terlihat sejak keberangkatan. Rombongan Spempat memilih menumpang angkutan kota (angkot) menuju lokasi. Kesederhanaan ini justru menambah keakraban antarsiswa sebelum mereka memasuki fase simulasi yang menguras fisik.

Tepat pukul 09.00 WIB, prosesi dimulai. Dipandu oleh para instruktur dari KBIHU Muhammadiyah Kota Surabaya, para siswa memulai dari niat ihram, tawaf mengelilingi replika Ka’bah, hingga sa’i—lari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah.

Suasana berubah haru saat simulasi wukuf di Arafah. Di tengah doa bersama, banyak siswa yang tertunduk khusyuk, seolah benar-benar berada di padang pasir yang sakral. Kegiatan memuncak pada prosesi lempar jumrah di Mina, di mana para siswa melemparkan kerikil sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan.

Pendidikan Karakter Sejak Dini

Siswa putri setelah mengikuti kegiatan praktik manasik haji

Kepala SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, Laili Rahmi, S.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian vital dari pendidikan karakter.

“Kami ingin anak-anak belajar dengan mengalami langsung (experiential learning), bukan hanya menghafal teori di kelas. Harapannya, muncul kerinduan dan cita-cita untuk menunaikan haji yang sesungguhnya di masa depan,” ujar Laili.

Pengalaman mendalam pun dirasakan oleh Nameera Ayasha, siswa kelas 9. Meski sehari sebelumnya telah mengikuti gladi bersih, ia mengaku tetap merasa gugup saat menjalani simulasi hari ini.

“Masya Allah, ini pengalaman pertama saya. Ternyata meski hanya simulasi, rasanya sampai gemetar. Benar-benar memberikan gambaran betapa besarnya perjuangan di tanah suci nanti,” ungkap Nameera dengan mata berbinar.

Kegiatan yang berakhir pukul 10.00 WIB ini sukses menanamkan kesan mendalam bagi para siswa. Bukan sekadar simulasi fisik, manasik haji kali ini berhasil menyatukan nalar ilmiah dan kemantapan akidah di hati para calon tamu Allah masa depan tersebut.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *